periskop.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membagikan kabar menyejukkan mengenai pelaksanaan perayaan Natal bersama yang tetap digelar secara khidmat oleh warga terdampak bencana di wilayah Sumatera Utara, sebagai bagian penting dari upaya pemulihan psikologis dan spiritual para pengungsi.

“Satu hal mungkin yang kami berbagi kebahagiaan bahwa kita merayakan perayaan Natal bersama di Sumatera Utara. Tentu saja kita harapkan ini juga merupakan bagian dari recovery psikis dan spiritual,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam konferensi pers daring, Sabtu (27/12).

Abdul menuturkan momen perayaan hari besar keagamaan ini menjadi penguat mental bagi warga yang tengah dirundung duka. Kehadiran suasana Natal diharapkan mampu sedikit mengobati trauma kehilangan harta benda maupun kerabat.

Meski dilaksanakan di tengah situasi darurat dan jauh dari kemewahan, kekhusyukan ibadah tidak berkurang. Warga tetap antusias mengikuti rangkaian kegiatan keagamaan di posko-posko pengungsian.

“Supaya saudara-saudara kita di Sumatera Utara bisa merayakan Natal dengan khidmat. Meskipun dalam kondisi serba keterbatasan, tetapi kita harapkan tidak mengurangi kekhidmatan dari suasana Natal itu sendiri,” ujarnya.

Pemerintah memfasilitasi kegiatan ini sebagai wujud kehadiran negara dalam aspek spiritual warganya. Dukungan moral dinilai sama pentingnya dengan bantuan logistik fisik dalam masa pemulihan pascabencana.

Selain di Sumatera Utara, semangat kebersamaan juga terus didorong di wilayah Aceh dan Sumatera Barat. Pemerintah mengapresiasi tingginya solidaritas sosial antarwarga di tengah musibah.

Abdul juga menyampaikan rasa terima kasih pemerintah pusat kepada seluruh elemen yang terlibat. Kerja keras pemerintah daerah dan relawan sangat membantu menciptakan suasana kondusif bagi para korban.

“Pemerintah daerah mengucapkan terima kasih atas kerja sama, gotong royong, dan saling bahu-membahu segenap seluruh entitas masyarakat yang terlibat dalam upaya percepatan pemulihan pascabencana di tiga provinsi ini,” tuturnya.

Momentum ini diharapkan menjadi titik balik kebangkitan masyarakat. Semangat gotong royong yang tecermin dalam perayaan Natal dan penanganan bencana menjadi modal sosial kuat untuk membangun kembali wilayah yang rusak.

BNPB memastikan pendampingan psikososial akan terus dilakukan beriringan dengan pemulihan infrastruktur fisik hingga kehidupan masyarakat kembali normal sepenuhnya.