periskop.id - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menegaskan prioritas utama kegiatan belajar mengajar di wilayah terdampak bencana Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat adalah pemulihan kondisi psikologis siswa, bukan pencapaian target akademik.
"Dukungan psikososial terintegrasi dalam pembelajaran, kemudian assessment yang sangat sederhana, tidak ada assessment formatif atau sumatif yang kompleks, fokus pada kehadiran, keamanan, dan kenyamanan murid," tegas Abdul Mu'ti dalam dalam Konferensi Pers Update Penanganan Bencana Banjir Longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar di Jakarta, Selasa (30/12).
Kebijakan ini diterjemahkan ke dalam kurikulum fase tanggap darurat yang berlaku selama 0 hingga 3 bulan pertama. Pemerintah menyadari anak-anak korban bencana membutuhkan waktu untuk memulihkan diri dari trauma kehilangan tempat tinggal dan harta benda.
Abdul Mu'ti menjelaskan bahwa materi pembelajaran pada fase awal ini dirancang sangat cair dan fleksibel. Guru diminta tidak membebani siswa dengan tugas-tugas berat atau ujian yang menuntut hafalan tinggi.
Penerapan dukungan psikososial ini tidak berdiri sendiri, melainkan melebur dalam aktivitas kelas sehari-hari. Tujuannya adalah membangun kembali rasa aman bagi anak-anak saat berada di lingkungan sekolah dan berinteraksi dengan teman sebayanya.
Selain aspek psikologis, kelonggaran aturan fisik juga diberikan untuk mendukung kenyamanan mental siswa. Mereka diizinkan bersekolah tanpa seragam dan sepatu, sehingga tidak ada rasa minder atau tekanan bagi keluarga yang belum mampu membeli perlengkapan baru.
"Artinya mereka boleh saja tidak pakai seragam, boleh saja mereka tidak pakai sepatu dan yang lain-lainnya," tambah Mu'ti untuk meyakinkan orang tua agar tetap menyekolahkan anaknya meski dengan perlengkapan seadanya.
Penilaian perkembangan sosio-emosional murid akan menjadi indikator utama keberhasilan pembelajaran di masa transisi ini. Guru akan memantau bagaimana interaksi sosial siswa berangsur pulih seiring berjalannya waktu.
Jika kondisi mental dan emosional siswa dinilai sudah stabil setelah tiga bulan, barulah sekolah akan beralih ke fase pemulihan pembelajaran lanjutan. Pada tahap berikutnya, materi mitigasi bencana akan mulai diperkenalkan secara lebih terstruktur.
Pemerintah berharap pendekatan humanis ini dapat mencegah dampak trauma berkepanjangan pada generasi muda di wilayah bencana. Sekolah diharapkan menjadi ruang paling aman dan menyenangkan bagi anak-anak untuk bangkit dari musibah.
Tinggalkan Komentar
Komentar