periskop.id - Kurang dari dua tahun memimpin, Presiden Prabowo Subianto mencatatkan tingkat kepuasan publik yang nyaris menyentuh 80%. Survei terbaru Indikator Politik Indonesia yang dilakukan pada 15-21 Januari 2026 menunjukkan approval rating berada di angka 79,9%, sebuah capaian yang tergolong sangat tinggi untuk fase awal pemerintahan. Bahkan, posisinya melampaui tingkat kepuasan awal dua presiden sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Joko Widodo.

Founder Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, menilai capaian ini menarik karena sempat terjadi gejolak politik dan demonstrasi pada Agustus lalu yang membuat angka kepuasan menurun. Namun, tren tersebut cepat berbalik dan kembali menguat. Kondisi ini mencerminkan daya tahan kepercayaan publik yang cukup solid terhadap kepemimpinan Prabowo. Lalu, faktor apa saja yang membuat dukungan itu tetap tinggi?

Rahasia di Balik 79,9%: Efek Jokowi atau Kerja Nyata?

Dalam survei yang melibatkan 1.220 responden dengan tingkat kepercayaan 95% ini, terdapat rincian yang cukup menarik. Sebanyak 13% masyarakat menyatakan "sangat puas", sementara mayoritas sebesar 66,9% merasa "puas". Di sisi lain, kelompok yang merasa "kurang puas" berada di angka 17,1%, dan hanya 2,2% yang menyatakan "tidak puas sama sekali". Kecilnya angka ketidakpuasan ekstrem ini menjadi indikasi bahwa kebijakan yang diambil pemerintah sejauh ini cukup bisa diterima oleh berbagai lapisan masyarakat.

Mengapa angka ini bisa begitu tinggi melampaui para pendahulunya? Kuncinya ada pada modal awal. Prabowo memenangkan pemilihan presiden 2024 dengan perolehan suara yang memecahkan rekor sejarah, yakni mencapai 96 juta pemilih atau 58,6%. Sebagai perbandingan, saat SBY memenangi periode keduanya pada 2009, jumlah suaranya belum mencapai 70 juta. Modal elektoral yang masif ini menjadi fondasi yang kokoh bagi stabilitas pemerintahannya.

Selain itu, adanya dukungan langsung dari presiden terdahulu, Jokowi, menciptakan transisi yang mulus. Burhanuddin menjelaskan bahwa Prabowo tidak hanya mengandalkan pesona pribadinya, tetapi juga berhasil mengonsolidasikan basis massa Jokowi.

"Approval rating Pak Prabowo lebih tinggi karena tadi Pak Prabowo bukan hanya menggantungkan modal elektoral dari dukungan dari Pak Prabowo sendiri tapi juga dari Pak Jokowi," ujarnya pada Minggu (8/2).

Perpaduan antara gaya kepemimpinan tegas khas Prabowo dan keberlanjutan program era sebelumnya menciptakan rasa aman di masyarakat. Namun, pertanyaannya, apakah angka setinggi ini murni karena popularitas atau memang ada kerja nyata yang dirasakan masyarakat?

Korupsi dan Perut: Dua Kunci Utama Kepuasan Rakyat

Isu yang paling banyak mendongkrak kepuasan publik adalah pemberantasan korupsi. Sebanyak 17,5% responden mengaku puas karena pemerintah dinilai serius menindak koruptor. Di tengah keraguan publik terhadap penegakan hukum beberapa tahun terakhir, langkah tegas di awal pemerintahan memberi sinyal perubahan yang nyata.

Selain itu, program yang menyentuh kebutuhan dasar juga berpengaruh besar. Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut secara khusus oleh 8,4% responden sebagai alasan kepuasan. Ditambah kebijakan yang dinilai sering memberi bantuan langsung (15,6%) serta program kerja yang dianggap baik (11%), pemerintah dinilai hadir secara konkret dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Faktor kepemimpinan personal turut memperkuat angka tersebut. Sebanyak 9,7% responden menyebut sikap tegas, berani, dan berwibawa sebagai alasan kepuasan. Perpaduan antara penegakan hukum, bantuan sosial, dan citra kepemimpinan yang kuat membuat tingkat kepuasan publik tetap tinggi.

Gen Z Menjadi Tulang Punggung Kepuasan Publik

Ada satu temuan penting yang patut digarisbawahi bahwa Gen Z menjadi penopang kuat tingginya kepuasan ini. Anggapan bahwa basis pendukung Prabowo didominasi kalangan tua terpatahkan oleh data. Exit poll pemilihan presiden 2024 menunjukkan sekitar 71% pemilih Gen Z memilih Prabowo dan hingga Januari 2026 dukungan itu terlihat tetap solid. Bagi banyak anak muda, ia dipandang bukan sekadar figur lama, tetapi pemimpin yang dinilai mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Namun, menjaga tingkat kepuasan yang mendekati 80% tentu bukan hal ringan. Dengan margin of error 2,9%, selalu ada ruang perubahan dalam dinamika opini publik. Tantangan berikutnya adalah memastikan kepuasan ini tidak berhenti pada persepsi, melainkan terasa dalam pemerataan ekonomi dan perbaikan nyata di lapangan. Program bantuan sosial dan MBG mendapat respons positif, tetapi kesinambungan anggaran dan kinerja birokrasi akan menjadi penentu ke depan.

Survei ini menunjukkan bahwa saat ini Presiden Prabowo masih memegang tingkat kepercayaan publik yang sangat tinggi. Penilaian positif sudah diberikan, selanjutnya konsistensi dan hasil konkret akan menjadi kunci untuk mempertahankannya.