Periskop.id - Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Andalas (UNAND), Sumatera Barat (Sumbar) Virtuous Setyaka menyarankan agar Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri terus memantau dan mengutamakan keamanan Warga Negara Indonesia (WNI) di Timur Tengah. Hal ini diperlukan menyusul meningkatnya eskalasi konflik di kawasan itu.
"Sebaiknya mulai dari sekarang mulai dipikirkan cara untuk mengamankan WNI yang ada di Timur Tengah," kata Virtuous Setyaka di Kota Padang, Minggu (1/3).
Hal tersebut disampaikan Virtuous menyusul meningkatnya eskalasi dan ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat bersama sekutunya Israel yang berimbas pada beberapa negara di Timur Tengah. Serangan Israel dan Amerika ke Iran, dibalas oleh Iran dengan serangan serupa ke Israel dan sejumlah daerah lainnnya.
Beberapa pangkalan militer milik Amerika Serikat di beberapa negara Timur Tengah yakni Bahrain, Qatar dan Uni Emirat Arab juga turut menjadi sasaran rudal-rudal yang dikirimkan Iran.
Virtuous khawatir jika langkah pengamanan terhadap WNI yang saat ini sedang berada di beberapa negara yang sedang terlibat perang tidak segera dilakukan, maka berpotensi mengancam keselamatannya.
Ia menilai konflik yang terjadi di Timur Tengah bisa memicu perang regional serta melibatkan beberapa negara di kawasan itu. Oleh sebab itu, Kementerian Luar Negeri disarankan segera mengambil langkah antisipasi terhadap para WNI di zona merah.
Kedutaan Besar Republik Indonesia di Riyadh mengimbau seluruh WNI di wilayah Arab Saudi agar tetap tenang, dan tidak panik. Mereka juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan situasi di sekitar domisili masing-masing.
KBRI juga meminta para WNI untuk memantau informasi dari sumber resmi dan terpercaya dan mematuhi arahan dan imbauan dari otoritas Pemerintah Arab Saudi dan KBRI Riyadh. WNI di negara tersebut juga diimbau untuk melakukan lapor diri ke KBRI Riyadh melalui laman https://peduliwni.kemlu.go.id/beranda.html.
Siaga III
Sementara itu, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Abu Dhabi dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Dubai memantau situasi dan menetapkan siaga III atau level siaga terendah per 28 Februari 2026 menyusul situasi keamanan yang memanas di Timur Tengah.
Melalui kanal informasi resmi yang disampaikan KBRI Abu Dhabi di Abu Dhabi, Minggu disebutkan, penetapan level siaga III mempertimbangkan sejumlah indicator. Di antaranya situasi yang masih normal walaupun beberapa konflik terjadi di wilayah lain dan belum terdampak secara langsung.
Selain itu juga terdapat sejumlah kedutaan asing/organisasi internasional yang merilis imbauan untuk langkah-langkah penyelamatan diri jika terjadi eskalasi konflik. Kemungkinan bentuk ancaman yang diwaspadai adalah berupa serangan rudal/drone.
Penetapan level siaga III itu untuk merespons adanya eskalasi militer antara AS-Israel dan Iran. Iran meluncurkan rudal ke wilayah Israel dan negara-negara Teluk, termasuk Uni Arab Emirates (UAE).
Kementerian Pertahanan UAE sendiri telah melakukan intercept rudal dan mengecam serangan tersebut. Otoritas UAE merilis imbauan melalui notifikasi bagi siapapun yang berada di wilayah terdampak yang diterima melalui ponsel dalam keadaan aktif.
Notifikasi berisi imbauan agar mencari tempat yang aman, menjauhi pintu, jendela, dan area terbuka serta menunggu instruksi lanjutan. Sampai dini hari hingga menjelang waktu sahur, terdengar suara dentuman meriam dan sejumlah pesawat tempur yang terbang di wilayah udara Abu Dhabi.
Akibat kejadian itu di seluruh kawasan Timur Tengah, ruang udara sementara ditutup atau dibatasi. Situasi tersebut mendorong negara-negara tetangga untuk menjauhkan pesawat sipil dari potensi bahaya.
Kekhawatiran atas keselamatan ini juga membuat sejumlah bandara besar lainnya, termasuk Bandara Internasional Dubai dan Bandara Internasional Hamad di Doha, menghentikan operasional, mengalihkan penerbangan atau bahkan membatalkan layanan sepenuhnya.
Maskapai, salah satunya Etihad Airways misalnya telah mengumumkan penangguhan sementara seluruh keberangkatan dari Bandara Internasional Zayed di Abu Dhabi hingga pukul 14.00 waktu Uni Emirat Arab pada Minggu.
Langkah tersebut diambil di tengah penutupan ruang udara secara luas di kawasan yang berdampak pada maskapai-maskapai di seluruh wilayah Teluk dan sekitarnya sehingga penumpang menghadapi pembatalan penerbangan, pengalihan rute serta ketidakpastian rencana perjalanan.
KBRI Abu Dhabi sendiri menggelar Town Hall Meeting dengan masyarakat Indonesia yang tinggal di UEA secara daring pada Sabtu (28/2) pukul 21.00-23.00 waktu setempat untuk menjelaskan situasi terkini yang terjadi di wilayah tersebut.
KBRI Abu Dhabi juga menyampaikan imbauan kepada seluruh WNI agar meningkatkan kewaspadaan, mengurangi pergerakan ke luar rumah, dan menghindari lokasi dan area yang berpotensi terdampak.
Selain itu, WNI juga diimbau tetap tenang sambil terus memantau perkembangan situasi melalui sumber resmi yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
WNI diimbau menjaga komunikasi dengan sesama masyarakat Indonesia serta keluarga masing-masing. Kemudian melakukan lapor diri secara daring melalui www.peduliwni.kemlu.go.id. KBRI Abu Dhabi dan KJRI Dubai juga menyediakan hotline khusus untuk merespons kedaruratan yang terjadi.
Tinggalkan Komentar
Komentar