periskop.id - Presiden Prabowo Subianto menepis isu kewajiban Indonesia membayar iuran keanggotaan BOP senilai US$1 miliar. Kepala Negara memastikan kontribusi negara murni berupa pengerahan pasukan perdamaian ke wilayah konflik.

​"Jadi kita tidak pernah mengatakan kita mau ikut iuran US$1 miliar," ujar Prabowo dalam forum diskusi di Jakarta, Minggu (22/3).

​Desas-desus mengenai beban iuran premium ini disebut sempat memicu pertanyaan publik terkait sumber pendanaannya.

​Prabowo menjelaskan skema awal pembentukan BOP memang menawarkan opsi keanggotaan permanen bersyarat setoran finansial.

​"Pokoknya Anda ada di situ, diminta sumbangan US$1 miliar," tuturnya.

​Indonesia dipastikan menolak opsi keanggotaan berbayar dengan nominal fantastis tersebut.

​Pihak penyelenggara disebut turut meminta kesediaan pemerintah mengirimkan armada penjaga perdamaian.

​"Kemudian kita diminta Indonesia bisa nggak nyumbang pasukan. Saya mengatakan bisa, pasukan perdamaian bisa," ucapnya.

​Sikap tegas ini dinilai sudah tersampaikan langsung pada pertemuan para donatur di Washington pada 19 Februari lalu.

​"Karena saya dibuat komitmen, saya tidak komit uang sama sekali," tegasnya.

​Prabowo menggarisbawahi pemerintah tidak memberikan persetujuan komitmen pembiayaan apa pun di luar pengerahan personel militer.

​Negara dipastikan tetap bersiap merespons kebutuhan rekonstruksi pascaperang saat situasi membaik.

​"Kalau benar-benar pencapaian senjata terus berhasil, dan sudah mulai pembangunan, bisa saja Indonesia ikut serta," jelasnya.

​Bantuan pembangunan ulang infrastruktur kelak dinilai bisa tersalurkan melalui badan amil zakat resmi nasional.

​"Kita punya Baznas, nanti, kita sebelum ini pun kita sudah bangun rumah sakit," pungkasnya.