Periskop.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan, musim kemarau tahun 2026 berpotensi bersifat lebih kering. Setidaknya jika dibandingkan dengan angka rata-rata selama periode 30 tahun terakhir.

Direktur Perubahan Iklim BMKG Fachri Rajab menjelaskan, selain lebih kering, musim kemarau tahun ini diprakirakan akan datang lebih awal dengan durasi yang lebih panjang.

"Bila dibandingkan dengan rata-ratanya selama 30 tahun, musim kemarau tahun ini relatif lebih kering. Namun perlu digarisbawahi, maksudnya adalah lebih kering dari rata-rata, bukan musim kemarau terparah sepanjang 30 tahun," kata Fachri dalam diskusi memperingati Hari Meteorologi Dunia ke-76 Stasiun Klimatologi Jawa Barat "Observing Today, Protecting Tomorrow" di Jakarta, Selasa (14/4). 

Fachri meluruskan informasi di ruang publik belakangan ini yang menyebutkan kemarau 2026 sebagai yang paling ekstrem. Bahkan sejumlah pihak menamai dengan sebutan yang terkesan sangat mengerikan Kemarau Godzila atau El-Nino Godzila.

BMKG tidak menggunakan istilah tersebut, kata dia, dan menilai fenomena yang digambarkan itu tidak sepenuhnya benar. Justru cenderung berlebihan untuk disampaikan kepada publik.

Jika dibandingkan tahun per tahun, lanjutnya, kemarau tahun 1997 dan 2015 masih jauh lebih dahsyat, tetapi kondisi tahun ini diprediksi memang lebih kering dibandingkan tahun 2023.

Kondisi kemarau tahun ini dipengaruhi oleh aktifnya fenomena El Nino yang mulai muncul pada akhir April hingga awal Mei 2026. Kehadiran fenomena inilah yang berpengaruh pada berkurangnya intensitas curah hujan di wilayah Indonesia

"Perlu pula diketahui El Nino dan musim kemarau itu kedua barang yang berbeda gitu ya. Walaupun El Nino mempengaruhi intensitas dari musim kemarau, tapi musim kemarau bukan karena ada El Nino, bukan gitu ya," tuturnya. 

Musim Kemarau
Dia menjelaskan, ada atau tidak ada El Nino, di Indonesia tetap ada musim kemarau sepanjang tahun mengingat negara ini beriklim tropis yang hanya ada musim hujan dan kemarau.

"Karena kemarau tahun ini berbarengan dengan aktifnya El Nino, sehingga curah hujannya relatif lebih sedikit. Saat ini intensitas El Nino masih dalam kategori lemah," ucap Fachri.

Bisa dibilang, El Nino adalah fenomena iklim global yang berawal dari perubahan suhu air laut di Samudra Pasifik. Perubahan ini memengaruhi arah angin dan pergerakan awan hujan di berbagai belahan dunia.

Bagi Indonesia, El Nino biasanya berarti berkurangnya hujan. Awan hujan yang biasanya terbentuk di wilayah Nusantara bergeser ke kawasan lain. Akibatnya, musim kemarau dapat berlangsung lebih lama dari biasanya.

Adapun intensitas El Nino di tahun ini sendiri diperkirakan meningkat dari kategori lemah menjadi moderat pada kuartal III tahun 2026. Tepatnya sekitar bulan Agustus, September, hingga Oktober sebagaimana analisis dari tim klimatologi BMKG.

Fachri menekankan, informasi ini harus ditanggapi serius, namun tidak perlu berlebihan atau bahkan menjadi panik. Kolaborasi lintas sektor dan masyarakat untuk melakukan mitigasi menjadi hal yang paling penting, sehingga ketersediaan air bersih dan keberlangsungan pertanian-perkebunan terjaga.

"Sekali lagi kami sampaikan bahwa memang tahun ini musim kemarau kita relatif lebih kering dibandingkan dengan rata-ratanya, kemudian ada fenomena El Nino, gitu ya,“ ucapnya

Tapi, ia sekali lagi mengingatkan, kategori El Nino itu hanya ada El Nino lemah, moderat, kuat, dan sangat kuat. “Jadi tidak ada El Nino-El Nino lain, tidak ada El Nino Pokemon, tidak ada El Nino King Kong itu nggak ada ya," tegas Facri.

Ingatkan Pemda
Sebelumnya, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengingatkan pemerintah daerah (pemda) untuk mengantisipasi dampak Godzilla El Nino yang berpotensi besar melanda Indonesia pada tahun 2026.

"Nah ini mohon perhatian sekali buat teman-teman, khususnya di pertanian perkebunan, akan ada cukup panjang gejala Godzilla El Nino," kata Deputi Bidang Pembangunan Kewilayahan Bappenas RI Medrilzam.

Hal tersebut disampaikan Medrilzam di sela-sela Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) baru-baru ini.  Medrilzam mengatakan potensi Godzilla El Nino tersebut setelah para ahli meteorologi dunia menyampaikan adanya ancaman fenomena itu, yang bisa berdampak pada berbagai sektor terutama pertanian.

"Jadi tahun 2026 ini setelah kita mengalami banjir-banjir kemarin, akan ada yang namanya Godzilla El Nino," ujarnya.

Selain sektor pertanian, Bappenas juga mengingatkan seluruh pemda untuk menyiapkan langkah antisipatif, terkait potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan imbas fenomena alam itu.

"Kami mohon betul perhatian semua dari level bupati, wali kota, hingga kepala desa, ini harus bisa kita antisipasi," ucap Medrilzam.

Ia menegaskan, antisipasi Godzilla El Nino mesti disiapkan sejak dini guna mencegah kasus karhutla yang besar seperti yang terjadi pada tahun 2015. Sebab jika hal ini tidak disiapkan maka dikhawatirkan bisa berdampak luas.

"Jangan sampai kejadian kebakaran besar waktu awal 2015 terjadi lagi di Indonesia. Jadi kita harus bisa antisipasi," ucapnya. 

Apalagi tiga provinsi di Sumatera yakni Aceh, Sumatera Utara dan Sumbar, baru saja dilanda banjir bandang dan tanah longsor. Ketiga daerah itu kini sedang dalam tahap pemulihan.

Artinya, kata dia, butuh antisipasi yang massif, agar berbagai potensi ancaman tadi tidak memperburuk atau mengganggu proses pemulihan dampak bencana yang sedang dilakukan pemerintah pusat, provinsi, hingga daerah.

Pada kesempatan itu ia turut menyinggung kondisi global yang sedang tidak baik-baik saja, sehingga juga berdampak kepada Indonesia. Di sisi lain, Perang Timur Tengah antara Amerika Serikat bersama sekutunya Israel melawan Iran turut juga berimbas kepada Indonesia.