periskop.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis penjelasan resmi mengenai fenomena hujan deras yang tetap mengguyur sejumlah daerah Indonesia pada masa awal musim kemarau.

​Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani memaparkan tingginya intensitas presipitasi terjadi akibat aktivitas bibit siklon tropis serta gelombang ekuatorial. Ia menyebut sebagian besar wilayah Nusantara kini sedang melintasi fase peralihan iklim.

Advertisement

"Akumulasi panas dari pagi hingga siang hari menyebabkan konveksi yang memicu ketidakstabilan atmosfer sehingga awan hujan terbentuk," terangnya ​dalam keterangan tertulis di Jakarta pada Rabu (27/5).

​Andri menambahkan lonjakan suhu udara akibat minimnya tutupan awan pagi turut memengaruhi kondisi cuaca menjelang sore. BMKG mencatat temperatur maksimum sempat melampaui 35 derajat Celsius di kawasan Aceh, Riau, Bali, Kalimantan, hingga Jawa Timur.

​Tingginya angka curah hujan harian di belasan provinsi menjadi bukti nyata ketidakstabilan udara lokal bagi pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. "Kondisi tersebut divalidasi oleh tingginya intensitas curah hujan kategori lebat hingga sangat lebat," jelasnya.

​Ia turut menyoroti keterlibatan interaksi fenomena iklim global lain di luar pemanasan suhu permukaan daratan. Andri mengonfirmasi pergerakan gelombang udara Madden-Julian Oscillation kini sedang aktif melintasi langit khatulistiwa.

​Andri menyebut pergerakan gelombang Rossby Ekuatorial serta gelombang Kelvin sangat memperkuat potensi curah air lintas provinsi. "Dua gelombang atmosfer tersebut juga berkontribusi besar dalam mendukung pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia," tegasnya.

​BMKG mendeteksi keberadaan area konvergensi akibat pembentukan sirkulasi siklonik yang menghambat laju pergerakan angin secara konstan. Situasi perlambatan massa udara ini memaksa uap air memusat dan membentuk formasi mendung pekat secara masif.

​Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika secara khusus mewaspadai pergerakan bibit badai 99W di perairan Samudra Pasifik sisi utara. Andri memperingatkan pusaran siklon tropis ini memicu pertemuan sirkulasi angin dari pesisir Papua Barat Daya hingga kawasan Teluk Cendrawasih.

​Andri memprediksi anomali cuaca berupa hujan lebat masih terus mendominasi kepulauan Nusantara selama sepekan ke depan. "Dinamika atmosfer skala regional masih berpotensi besar memicu pertumbuhan awan hujan di utara Indonesia," pungkasnya.