Periskop.id - Presiden Prabowo Subianto menargetkan pembangunan lebih dari 25.000 Koperasi Merah Putih di seluruh Indonesia dalam waktu tiga bulan, sebagai upaya nyata untuk memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan secara masif.
"Sebentar lagi kita akan resmikan 1.000 Koperasi Merah Putih. Kemungkinan, dua tiga minggu lagi. Sesudah itu, dua sampai tiga bulan lagi kita akan resmikan lebih dari 25.000 koperasi," kata Prabowo di acara groundbreaking 13 proyek hilirisasi di Cilacap Jawa Tengah, melalui siaran YouTube Sekretariat Kabinet di Jakarta, Rabu (29/4).
Presiden menegaskan, koperasi yang dibangun tersebut merupakan lembaga fisik yang memiliki sarana pendukung lengkap untuk operasional. Ia menyebutkan, setiap koperasi nantinya akan dilengkapi dengan gudang, alat pendingin, hingga kendaraan operasional untuk distribusi barang.
"Coba dibuka dalam sejarah, saya minta buka dalam sejarah dunia, ada nggak 25 ribu, atau 30 ribu koperasi bisa dibangun dan diselesaikan dalam satu tahun," ujat Presiden.
Koperasi Merah Putih merupakan inisiatif strategis pemerintah yang diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto, sebagai pilar penguatan ekonomi kerakyatan melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2025.
Program ini menargetkan pembentukan hingga 80.000 unit koperasi di seluruh pelosok Indonesia, guna mendorong kemandirian desa dan mempercepat tercapainya kedaulatan pangan serta energi nasional. Kehadiran koperasi ini dirancang sebagai agregator utama ekonomi pedesaan dengan tata kelola niaga melalui sistem digitalisasi.
Fokus utama Koperasi Merah Putih bertujuan memotong rantai distribusi pangan yang Panjang, agar masyarakat dapat mengakses kebutuhan pokok dengan harga terjangkau. Koperasi juga akan memberikan fasilitas lain seperti layanan simpan pinjam, penyaluran pupuk, hingga pembangunan fasilitas gudang pendingin (cold storage) bagi nelayan.
Ekonomi Lokal
Sementara itu, Direktur Eksekutif Center for Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menekankan Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih, perlu memperkuat keterkaitan dengan aktivitas ekonomi lokal guna mendorong pertumbuhan ekonomi desa.
“Koperasi bukan bekerja hanya untuk koperasi, tapi untuk menggerakkan ekonomi dasar. Jadi semestinya ada efek multiplier-nya termasuk terhadap penciptaan lapangan pekerjaan,” kata Faisal seperti dikutip Antara di Jakarta, Rabu (29/4).
Hal tersebut disampaikan di tengah rencana pemerintah membentuk hingga 80.000 unit Kopdes Merah Putih, dengan dukungan pendanaan yang diperkirakan mencapai Rp240 triliun hingga Rp400 triliun.
Pemerintah juga telah membuka rekrutmen sekitar 30.000 manajer koperasi, sebagai tahap awal penguatan kelembagaan dan operasional Kopdes Merah Putih.
Faisal menjelaskan, dampak Kopdes tidak hanya diukur dari jumlah tenaga kerja yang diserap untuk operasional koperasi, tetapi juga dari kemampuannya mendorong tumbuhnya usaha di desa. Menurut dia, keterkaitan tersebut dapat tercipta, apabila koperasi mampu menyerap produk lokal dan menghubungkannya dengan pasar yang lebih luas.
“Semestinya menyerap produk-produk lokal setempat untuk kemudian disambungkan dengan pasar,” ujarnya.
Ia menilai, koperasi dapat berperan sebagai agregator yang menghimpun produksi dari pelaku usaha kecil di desa, kemudian menyalurkannya kepada pembeli atau offtakeryang lebih besar. Dengan peran tersebut, koperasi diharapkan mampu meningkatkan skala usaha sekaligus nilai tambah produk lokal.
Faisal menambahkan, sektor usaha yang dikembangkan koperasi sebaiknya mengikuti sektor penggerak ekonomi desa, seperti pertanian dan komoditas unggulan setempat. Selain itu, koperasi juga dapat mengembangkan usaha berbasis potensi lain, seperti pariwisata desa, termasuk produk kerajinan, fesyen, dan kuliner.
Kesiapan Sistem
Namun, ia menekankan efektivitas Kopdes tetap bergantung pada kesiapan sistem dan pengelolaan yang tepat. “Manajer yang bagus tidak akan sukses tanpa ada sistem. Sistem yang bagus juga kurang akan bisa bekerja kalau tidak dipimpin oleh manajer yang baik,” tuturnya.
Ia juga menilai pemahaman terhadap kondisi lokal menjadi penting, agar koperasi dapat berjalan sesuai karakteristik ekonomi dan sosial budaya desa. “Kalau manajer yang direkrut bukan dari daerah setempat, tantangannya adalah pengetahuan tentang kondisi daerah di mana koperasi tersebut berada,” imbuhnya.
Faisal menambahkan perlunya sistem pengawasan dan evaluasi berbasis kinerja untuk memastikan koperasi dapat beroperasi secara optimal. Ia mengingatkan, agar pengembangan Kopdes tidak mengganggu pelaku usaha lokal yang telah berjalan.
“Jangan sampai justru keberadaan Koperasi Desa Merah Putih itu mematikan ekonomi dan pelaku-pelaku lokal yang sudah ada,” ujarnya.
Menurut dia, keberhasilan Kopdes pada akhirnya diukur dari kemampuannya menggerakkan ekonomi desa secara luas. Termasuk menciptakan lapangan kerja dan memperkuat usaha lokal.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menyatakan, Kopdes Merah Putih dirancang sebagai infrastruktur ekonomi desa untuk memperkuat akses masyarakat terhadap logistik, pembiayaan, dan pasar.
Ia mengatakan, koperasi tersebut akan berfungsi sebagai offtaker yang menyerap hasil produksi petani dan nelayan. Serta menyalurkannya ke pasar maupun lembaga seperti Bulog guna menjaga stabilitas harga di tingkat produsen.
Pemerintah menargetkan pembangunan 20.000 hingga 30.000 unit Kopdes Merah Putih dapat diselesaikan pada Juni 2026, dengan lebih dari 32.000 lokasi telah disiapkan dan sebagian di antaranya memasuki tahap penyelesaian.
Tinggalkan Komentar
Komentar