Periskop.id - Badan Gizi Nasional (BGN) saat ini tengah memperketat pengawasan operasional terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Air Asuk yang berlokasi di Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau.
Langkah tegas ini diambil setelah ditemukan adanya kontaminasi zat berbahaya dan bakteri pada menu makanan yang disajikan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sahril, selaku Koordinator BGN Wilayah Kabupaten Kepulauan Anambas, menyatakan bahwa SPPG di wilayah tersebut hanya diizinkan kembali beroperasi jika telah memenuhi seluruh standar yang ditetapkan oleh pusat.
Salah satu syarat mutlak yang harus dipenuhi adalah melakukan pembaruan pada Sertifikasi Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Upaya ini dilakukan guna memastikan agar insiden keracunan akibat konsumsi makanan dari program MBG tidak terulang kembali di masa mendatang.
"Kita juga menekankan SPPG harus meningkatkan pengawasan serta perbaikan-perbaikan dalam pemenuhan standar BGN," ucap Sahril sebagaimana dikutip oleh Antara pada Senin (4/5).
Investigasi Laboratorium
Kronologi peristiwa ini bermula pada Rabu (15/4) saat terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) berupa keracunan makanan yang menimpa para siswa penerima manfaat di Air Asuk. Tercatat sedikitnya 162 siswa mengalami gejala keracunan setelah menyantap menu yang disediakan.
Menanggapi situasi darurat tersebut, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas segera melakukan pengujian cepat menggunakan sanitary kit serta mengirimkan sampel makanan ke BPOM Batam untuk uji laboratorium lebih lanjut.
Berdasarkan hasil investigasi mendalam, ditemukan fakta medis yang cukup mengejutkan terkait keamanan pangan dalam program tersebut.
Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna melakukan pengujian terhadap sampel sisa makanan dan mendeteksi adanya kandungan zat berbahaya berupa boraks dengan kadar cemaran yang cukup tinggi, yakni berkisar antara 100 hingga 5.000 miligram.
Selain kontaminasi zat kimia, hasil pengujian laboratorium dari pihak BPOM juga memperkuat temuan adanya bakteri E.Coli yang mencemari sampel menu makanan yang disajikan kepada para siswa tersebut.
Penyebab Pencemaran Masih Diselidiki
Meskipun hasil uji cepat telah keluar sejak hari kejadian dan hasil laboratorium diterima pada 28 April 2026, pihak berwenang mengaku belum menemukan sumber pasti pencemaran tersebut.
Investigasi masih terus dilakukan untuk mengetahui bagaimana air bersih dan menu makanan bisa terpapar zat berbahaya dan bakteri.
"Untuk penyebab masih akan kita lakukan penyelidikan lebih lanjut," pungkas Sahril.
Adapun saat ini, BGN fokus pada perbaikan standar keamanan pangan agar program nasional ini tetap berjalan aman bagi seluruh siswa.
Tinggalkan Komentar
Komentar