periskop.id – Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten, Rawindra Ardiansah mengungkapkan, program Makan Bergizi Gratis (MBG) memicu perputaran ekonomi cukup besar di Banten.

 

Kata dia, perputaran uang per bulan pada tiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mencapai Rp1 miliar.

 

Menurutnya, kehadiran ribuan titik pelayanan ini siap menggerakkan roda ekonomi sekaligus menyerap logistik lokal di seluruh wilayah Banten.

 

"Rata-rata kalau dari data per SPPG, perputaran ekonominya mencapai Rp1 miliar per bulan untuk MBG, dan di Provinsi Banten ini ada 1.084 SPPG," kata Rawindra di Kota Serang, Kamis (07/05).

 

Peningkatan konsumsi pemerintah tercatat paling tinggi saat ini. Kondisi tersebut didorong oleh implementasi berbagai program prioritas nasional. Selain program makan gratis, faktor pendorong lainnya mencakup Koperasi Merah Putih serta sektor perumahan.

 

Rawindra memaparkan struktur perekonomian Banten masih didominasi konsumsi rumah tangga sebesar 53 persen. Angka ini tetap stabil dan kuat berkat pengaruh momen Hari Besar Keagamaan. Meski konsumsi pemerintah melesat, belanja masyarakat tetap menjadi motor utama.

 

Indikator pertumbuhan ekonomi Banten kini berada pada angka 5,64 persen. Capaian positif ini mendapat dukungan kuat dari sektor investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Kepercayaan investor terhadap wilayah ini dinilai masih sangat tinggi.

 

Proyek strategis nasional maupun swasta yang terus berjalan menjadi alasan utama para pemodal. Hal ini memberikan stabilitas pada pertumbuhan ekonomi daerah secara menyeluruh. BI optimis tren positif ini terjaga dengan adanya sinergi berbagai program pemerintah.

 

Sisi lain ekonomi Banten menunjukkan kinerja ekspor neto sedikit melambat. Walaupun melandai jika dibandingkan periode sebelumnya, performanya tetap berada dalam zona positif. Rawindra memberikan catatan khusus mengenai dinamika pada sektor perdagangan luar negeri ini.

 

"Sementara itu, untuk kinerja ekspor neto Banten tercatat sedikit melambat dibandingkan periode sebelumnya meski masih dalam tren positif," ujarnya.

 

Pelambatan tersebut terjadi karena para pengusaha menerapkan strategi front loading. Pelaku usaha memilih menarik jadwal impor lebih awal dari biasanya. Langkah ini merupakan upaya mitigasi risiko demi mengamankan ketersediaan stok bahan baku.

 

Para pengusaha khawatir terhadap gangguan rantai pasok global. Dinamika geopolitik internasional yang tidak menentu memaksa industri menjaga inventory lebih ketat. Kebijakan ini diambil guna memastikan produksi tetap berjalan lancar tanpa kendala logistik.