periskop.id - Presiden Prabowo Subianto resmi melakukan pergantian pucuk pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) dengan menunjuk Nanik S. Deyang sebagai Kepala BGN menggantikan Dadan Hindayana. Sebelumnya, Nanik menjabat sebagai Wakil Kepala BGN.
Menanggapi pergantian tersebut, Ekonom Universitas Brawijaya, Noval Adib, menilai perubahan kepemimpinan saja tidak akan otomatis menyelesaikan berbagai persoalan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) apabila tidak diikuti perbaikan menyeluruh pada aspek manajemen dan tata kelola lembaga.
"Penggantian Dadan Hindayana cs dengan Nanik S. Deyang cs tidak akan menyelesaikan masalah MBG jika pola manajemennya tetap amatiran ala Dadan. Selama ini BGN di bawah kepemimpinan Dadan dijalankan tanpa mengindahkan prinsip-prinsip manajemen dan governance yang baik," kata Noval kepada media dalam keterangannya, Rabu (3/6).
Menurut Noval, selama ini BGN dinilai belum menerapkan prinsip-prinsip manajemen dan tata kelola yang efektif, terutama terkait efisiensi dan efektivitas penggunaan anggaran. Ia menilai masih terdapat sejumlah pos pengeluaran yang perlu dievaluasi agar anggaran program dapat lebih optimal dan tepat sasaran.
"Coba bagaimana bisa Dadan cs dengan ringannya menggelontorkan uang yang sangat besar untuk event organizer (>100 miliar), beli ribuan motor listrik (>1 triliun), beli kaos kaki, handuk, semeri, sepatu, dll? Pemberian insentif yang sangat besar kepada SPPG (Rp6 juta per hari), bahkan SPPG yang disuspend juga tetap diberi insentif, banyak menimbulkan kritik keras bahwa BGN tidak ketulungan borosnya," tegas Noval.
Noval menyoroti sejumlah pengeluaran yang selama ini menuai kritik publik, mulai dari penggunaan anggaran untuk kegiatan pendukung, pengadaan berbagai perlengkapan, hingga skema insentif bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Menurutnya, seluruh komponen belanja tersebut perlu dievaluasi secara komprehensif untuk memastikan setiap rupiah anggaran memberikan nilai tambah bagi program.
Ia juga menilai ruang efisiensi anggaran MBG masih cukup besar. Menurut Noval, pengurangan anggaran program yang terjadi belakangan belum sepenuhnya mencerminkan upaya peningkatan efisiensi, melainkan lebih dipengaruhi oleh kondisi fiskal dan tantangan ekonomi yang dihadapi pemerintah.
"Itulah mengapa dulu saya berani mengatakan bahwa anggaran MBG mestinya bisa dihemat Rp100–200 triliun. Belakangan anggaran MBG dikurangi hampir Rp70 triliun, namun sepertinya motivasi pengurangan anggaran tersebut lebih karena pemerintah mulai keteteran dengan kondisi ekonomi yang makin memburuk dan bukan karena kesadaran pemerintah sendiri untuk mengakui bahwa BGN sama sekali tidak efisien dan efektif dalam mengelola MBG," terangnya.
Karena itu, Noval mendorong kepemimpinan baru BGN di bawah Nanik S. Deyang untuk melakukan reformasi manajemen secara menyeluruh, termasuk memperkuat sistem pengawasan, meningkatkan akuntabilitas penggunaan anggaran, serta menerapkan ukuran kinerja yang jelas dan terukur.
"Nanik S. Deyang cs sangat perlu merombak manajemen dan governance BGN secara radikal supaya anggaran MBG yang merupakan uang rakyat itu tersalurkan kepada rakyat secara efektif dan efisien. Hentikan aktivitas yang tidak bernilai tambah dan efisienkan aktivitas yang bernilai tambah, serta ukur performa manajemen dengan bersandar pada buku-buku manajemen," tutupnya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar