periskop.id - Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) tidak menganggap serius pernyataan mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer soal dugaan eskalasi politik yang disebut bakal menggulingkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Peringatan itu dilontarkan Noel, sapaan Immanuel, tepat setelah dirinya dijatuhi vonis 4,5 tahun penjara oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat.
Kepala Bakom Muhammad Qodari menegaskan, klaim Noel mengenai kemungkinan banyaknya pejabat pemerintah yang ditangkap aparat penegak hukum, khususnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sebelum eskalasi itu terjadi, sepenuhnya bukan ranah yang perlu digembar-gemborkan. Ia menyebut pernyataan semacam itu tidak tepat disampaikan seolah-olah sudah pasti terjadi.
“Penangkapan itu urusan penegak hukum, tidak bisa dia sampaikan seolah-olah seperti ini,” kata Qodari saat ditemui di Taxiway Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat (5/6).
Qodari turut mengimbau masyarakat agar tidak panik dalam menyikapi informasi yang belum tentu terbukti kebenarannya. Setiap pernyataan publik, menurutnya, perlu dicermati lebih dalam sebelum dipercaya begitu saja.
“Lebih baik kita kembali kepada apa yang menjadi fakta,” ujar Qodari.
Pernyataan Noel soal melemahnya kurs rupiah terhadap dolar AS sebagai bagian dari eskalasi itu pun dinilai tidak perlu dicerna secara berlebihan. Qodari mengklaim, pemerintah melalui Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia terus menggelar rapat evaluasi demi memulihkan nilai tukar rupiah.
“Bapak Presiden selalu evaluasi. Apakah ada rapat, evaluasi jalan terus,” ucap mantan Kepala Staf Kepresidenan itu.
Pernyataan Noel tersebut disampaikan sehari sebelum Qodari merespons, tepat seusai majelis hakim membacakan vonis 4,5 tahun penjara kepadanya. Noel memperingatkan Prabowo agar berhati-hati, sembari menyebut konsolidasi elemen sipil, mahasiswa, dan buruh sudah hampir menyentuh titik pemicu.
Noel juga menyarankan Prabowo mempererat hubungan dengan PDI Perjuangan (PDIP) serta tokoh Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab. Keduanya, menurut Noel, merupakan figur yang loyal dan strategis, serta dinilai amat penting jika kekuasaan Prabowo suatu saat terancam.
“Konsolidasi sipil, mahasiswa, buruh, dan semuanya. Tinggal satu, butuh satu pemicu. Dan (Reformasi) 98 jilid dua akan terjadi tidak lama lagi,” kata Noel.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar