Periskop.id - Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (WamenPPPA) Veronica Tan mengimbau anak-anak Indonesia memanfaatkan gawai dan Artificial Intelligence (AI) secara bijak. Ia meminta anak tidak menggunakan gadget untuk sekadar scroll urusan orang lain.
Veronica menuturkan, gawai dan teknologi AI semestinya dimanfaatkan anak untuk mengejar mimpi lewat proses belajar, bukan untuk hal-hal yang tidak produktif.
"Yang paling pertama adalah untuk mengejar mimpi, belajarlah sebanyak-banyaknya. Pakailah apapun alat yang ada, tapi untuk mengejar mimpi dan tujuan cita-cita," ujar Veronica dalam sambutan Puncak Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 di Makara Art Center, Universitas Indonesia, Depok, Kamis (23/7).
Perempuan yang akrab disapa Vero itu melanjutkan, gadget mestinya tidak dipakai untuk memantau kehidupan orang lain secara berlebihan. Ia menilai kebiasaan itu rawan menjerumuskan anak ke perilaku negatif, seperti mengejek orang lain lewat layar.
"Jadi kalau zaman sekarang ini punya AI, punya gadget, gadget-nya jangan di-scroll urusan orang ya. Jangan banyak lihatin yang aneh-aneh, ketawain orang, terus ketawa sendiri," tambah Veronica.
Vero menyebut anak generasi sekarang memang tak bisa lepas dari arus teknologi. Namun ia menekankan pentingnya kemampuan menyaring setiap konten yang diakses lewat gadget.
"Kita tidak bisa keluar dari jalur teknologi. Tapi Adik-adik harus bisa memastikan apa yang Adik-adik lihat. Jadi ini juga membuat kita punya prinsip kita mau belajar mengejar mimpi dengan tools dan teknologi yang ada, tapi kita juga mau belajar untuk kebaikan," ungkap Veronica.
Selain soal gadget, Veronica berpesan agar anak-anak tetap mengedepankan hati nurani dalam bersikap. Kepedulian terhadap sesama, menurutnya, akan tetap muncul selama nilai itu terus dijaga.
"Jadi yang kedua yang harus Adik-adik ingat adalah budi. Hati nurani itu Tuhan ciptakan untuk kita semua. Jadi kalau kita rasa ada teman atau orang lain yang mungkin perlu bantuan, janganlah lupakan hati nurani itu," beber Veronica.
Ia menambahkan, anak-anak harus tetap memakai budi dan hati nurani karena hal itu jadi bagian dari budaya bangsa.
Veronica turut mengingatkan risiko predator di ruang digital. Ia mendorong anak berani menolak percakapan yang sudah melewati batas privasi pribadi maupun keluarga.
"Siapapun itu bisa meng-grooming Adik, siapapun itu bisa berbicara dengan Adik-adik karena dengan adanya teknologi kita sudah tidak ada batas. Tapi Adik-adik bisa mengatakan tidak kalau semua hal ataupun percakapan sudah melewati batas urusan pribadi," ungkap Veronica. "Apalagi daerah privasi keluarga yang mungkin ditanyain sesuatu yang mungkin harusnya sudah daerah privat. Adik-adik bisa mengatakan tidak," tambahnya.
Veronica juga berpesan agar anak tetap bisa mengungkapkan perasaannya, namun hanya kepada orang yang benar-benar dikenal dan dipercaya, bukan sembarang orang.
Acara Puncak Peringatan Hari Anak Nasional ke-42 ini turut dihadiri Wali Kota Depok Supian Suri dan diikuti sekitar 500 peserta anak.
"Tiga hal ini yang saya yakin dengan adanya tekad kita berbudaya dan berakal budi, ini menjadi basic kita untuk melangkah ke depan untuk mengejar mimpi dan juga memberikan pengaruh yang baik kepada sekitaran kita," pungkas Veronica.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar