Periskop.id - Sebanyak 88 unit Ferrari Luce yang dialokasikan untuk pasar China ludes terjual hampir seketika. Lenyapnya seluruh kuota itu menjadi sinyal kuat tingginya animo konsumen kelas atas Negeri Tirai Bambu terhadap mobil listrik perdana dari pabrikan Italia tersebut.

Berdasarkan laporan Arena EV pada Selasa (30/6), Ferrari Luce masuk pasar China dengan banderol 3.988.000 yuan atau setara Rp10,5 miliar. Harga itu sekitar tujuh persen lebih rendah dibanding harga eceran di Eropa yang menyentuh 550.000 euro atau sekitar Rp11,2 miliar.

Di balik angka harga tersebut, tersimpan strategi yang jauh dari kalkulasi ekonomi biasa. Urutan angka 3-9-8-8 dipilih mengacu pada numerologi homofonik Tiongkok, yang secara fonetik terdengar seperti frasa bermakna "Kekayaan dan kemakmuran abadi sepanjang hidup Anda."

Pendekatan itu dinilai jitu. Kuota 88 unit yang sengaja dibatasi untuk pasar China terjual hampir dalam sekejap, membuktikan daya tarik label harga berlapis simbolisme keberuntungan bagi kalangan ultra-kaya yang menjadi target pasarnya.

Namun perjalanan Luce menuju pasar China bukan tanpa hambatan. Debutan sedan empat pintu ini di Roma pada Mei 2026 sempat memicu respons negatif yang cukup keras. Kendaraan rancangan mantan desainer Apple, Jony Ive, itu dikritik karena tampilannya dinilai terlalu sederhana dan kurang agresif dibanding model Ferrari konvensional.

Imbas kritik tersebut langsung terasa di pasar modal. Saham Ferrari rontok lebih dari enam persen hanya dalam satu hari perdagangan.

Merespons situasi itu, Ferrari mengganti kepala pemasaran lamanya, Enrico Galliera, dengan Massimiliano Di Silvestre, yang sebelumnya mengelola divisi Italia BMW. Sebelum lengser, Galliera sempat membela strategi penjualan Ferrari secara terbuka. Ia menegaskan, Luce memang dirancang untuk menjangkau segmen pembeli yang sepenuhnya baru, bukan kolektor supercar yang selama ini setia pada merek tersebut.

Ferrari Luce memang berbeda jauh dari DNA supercar Ferrari yang selama ini dikenal. Kendaraan ini dirancang sebagai grand tourer lima tempat duduk yang fungsional, bukan mobil berperforma tinggi untuk sirkuit balap. Peluncurannya disebut menjadi momen unik dalam sejarah merek yang secara tradisional identik dengan kendaraan dua pintu bertenaga besar.

Di pasar China, Luce menghadapi persaingan dari produsen lokal yang tak kalah ambisius. BYD telah menghadirkan Yangwang U9, supercar listrik yang dibanderol separuh harga Luce, namun menawarkan pengisian baterai lebih cepat, akselerasi 0-100 km/jam lebih tinggi, serta tenaga lebih dari 200 tenaga kuda. Saingan lainnya, Hyptec SSR dari GAC, mulai dari 1.286.000 yuan atau sekitar Rp3,4 miliar, dan mampu melesat dari 0 ke 100 km/jam hanya dalam 1,9 detik.

Para pengamat industri meragukan apakah pembeli Ferrari Luce benar-benar mempertimbangkan alternatif lokal semacam Denza Z9 GT atau pilihan domestik serupa. Bagi segmen ultra-kaya, kendaraan mewah lebih berfungsi sebagai simbol status ketimbang perbandingan spesifikasi teknis.

Konsumen China juga semakin memandang penggerak listrik sebagai kelaziman alami dalam ranah kemewahan modern. Ferrari dianggap memahami betul posisi ini saat merancang Luce, dan pabrikan asal Italia itu tampaknya berhasil menemukan audiens yang menyambut masa depan otomotif, meski wajah Luce jauh berbeda dari model-model lamanya.