periskop.id - Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Sudarto menegaskan seluruh warga negara Indonesia berhak mengikuti seleksi beasiswa LPDP, termasuk anak pejabat maupun mereka yang berasal dari keluarga mampu.
"Semua anak kita itu punya kesempatan, kita harus bersaing, makanya diberi kesempatan. Mengenai tadi anak pejabat, ya boleh," ucap Sudarto dalam media briefing di Jakarta, Kamis (26/2).
Menurut dia, Indonesia membutuhkan lebih banyak talenta unggul, setidaknya lebih dari 1–2% angkatan kerja yang mampu menjadi agen perubahan melalui inovasi dan terobosan baru. Karena itu, LPDP membuka akses seluas-luasnya bagi putra-putri terbaik bangsa untuk menempuh pendidikan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri.
"Jadi yang dibutuhkan oleh Indonesia, supaya karya itu bisa tumbuh dengan cepat, adalah lebih dari 1% hingga 2% dari angkatan kerjanya," jelasnya.
Namun demikian, Sudarto menekankan bahwa tidak semua anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk bersaing. Banyak talenta cerdas dari daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), Papua, maupun keluarga prasejahtera yang memiliki potensi besar tetapi terkendala akses, termasuk kemampuan bahasa asing.
Untuk menjawab kesenjangan tersebut, LPDP menghadirkan skema Beasiswa Afirmasi dengan persyaratan yang lebih fleksibel dibanding jalur reguler. Misalnya, tidak mewajibkan sertifikat bahasa Inggris pada tahap awal serta memberikan kelonggaran batas usia.
"Untuk anak-anak Papua, secara khusus dari 3T atau keluarga prasejahtera, dia cerdas tapi mungkin tidak bisa bahasa Inggris, ya kan?" paparnya.
Sudarto menambahkan, melalui pendekatan inklusif tersebut, LPDP ingin memastikan pemerataan akses pendidikan sekaligus mendorong lahirnya sumber daya manusia unggul dari berbagai latar belakang daerah dan sosial ekonomi.
"Jadi LPDP harus inklusif, dan saya mau koreksi terus harus inklusif. Karena apa? Banyak sekali pihak di daerah kita yang tidak punya kesempatan yang sama untuk bersaing, maka harus diberi kesempatan," tutup Sudarto.
Tinggalkan Komentar
Komentar