Periskop.id - Pemerintah melalui Kementerian Sosial (Kemensos) melakukan langkah proaktif dengan menyisir kawasan pasar hingga perempatan jalan di Jakarta dan daerah sekitarnya. Langkah ini dilakukan untuk menjaring anak terlantar atau putus sekolah agar dapat melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat.

"Kami melakukan penjangkauan lewat langkah proaktif dengan mendatangi titik-titik seperti perempatan jalan dan pasar. Kami mencari anak-anak usia sekolah yang seharusnya belajar, namun justru mengamen atau bekerja membantu orang tuanya," kata Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf selepas dialog bersama calon siswa Sekolah Rakyat di Kompleks Lembaga Administrasi Negara (LAN), Jakarta, Rabu (22/4). 

Mensos menjelaskan, penjangkauan langsung ke pusat-pusat keramaian di Jakarta dan sekitarnya merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh tim petugas dari Kemensos bersama mitra strategis, seperti BPS dan Dinas Sosial dalam beberapa waktu ke depan.

Selain itu tim petugas tersebut juga akan mendatangi rumah dari anak-anak yang keluarganya masuk kategori miskin dan terdaftar dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

"Ini adalah bagian dari atensi Bapak Presiden Prabowo agar anak-anak yang putus sekolah, belum sekolah, tidak sekolah, berpotensi putus sekolah bisa dijangkau lewat sekolah rakyat ini. Itu intinya," ucap Mensos.

Kemensos mengumumkan sementara ini pihaknya sudah menjangkau sebanyak 77 anak yang memenuhi kriteria sebagai calon siswa Sekolah rakyat. Adapun 29 anak di antaranya ditemukan saat sedang beraktivitas di jalanan.

Proses Verifikasi
Puluhan anak tersebut saat ini masih menjalani proses verifikasi kelengkapan data untuk diantarkan menjadi siswa Sekolah Rakyat. Ia menyebut proses verifikasi dan penjangkauan ini ditargetkan rampung secepat mungkin agar anak-anak bisa mengikuti aktivitas belajar-mengajar pada tahun ajaran baru pada pertengahan Juli mendatang.

"Ada 10 titik yang disiapkan untuk jadi Sekolah Rakyat di Jakarta dan sekitarnya yang akan menampung mereka," ucap Saifullah.

Dalam hal ini pemerintah menyiapkan 10 titik Sekolah Rakyat rintisan yang memanfaatkan aset gedung milik berbagai instansi pemerintah, di wilayah Jakarta dan daerah penyangga ibu kota yang telah dinyatakan layak oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

"Sepuluh titik ini bisa menampung tidak kurang dari 1.000 siswa. Kami bekerja sama dengan LAN, Kementerian Perhubungan, Kementerian Pertanian, BNN, hingga memanfaatkan Tagana Center di Hambalang," ujarnya.

Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya yang ikut mengecek kesiapan Sekolah Rakyat (SR) di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, Jakarta, Rabu, juga menemui para calon siswa Sekolah Rakyat, yang mayoritas berasal dari keluarga desil 1 atau kategori miskin ekstrem.

“Jadi, adik-adik selamat datang di sini. (Sekolah Rakyat, red.) ini belum beroperasi, sehingga Pak Mensos mengajak saya untuk mengecek sekolahnya,” kata Seskab Teddy di hadapan para calon siswa Sekolah Rakyat di Pejompongan, Jakarta, Rabu sore.

Sebanyak lebih dari 70 calon siswa Sekolah Rakyat dari jenjang SD sampai dengan SMA, yang asalnya dari berbagai daerah di Jakarta, berkumpul di bangunan Sekolah Rakyat yang menempati gedung Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI di Pejompongan.

Sekolah Rakyat di Pejompongan itu saat ini masih dipersiapkan untuk nantinya menampung para siswa yang sebagian besar putus sekolah ataupun tidak bersekolah sejak jenjang SD.

Belum Pernah Sekolah
Dalam pertemuannya dengan para calon siswa, Seskab Teddy juga berdialog dengan beberapa calon siswa, di antaranya Rizki Saputra Gonjalez, Putri Nana Kurnia dan Aljabar Nur. Ketiganya saat ini menetap di Jakarta.

Assalamualaikum Warahmahtullahi Wabarakatuh, perkenalkan nama saya Gonjalez, pindahan dari Sekolah Remaja Budi Jaya, tinggal saya di Jakarta Utara. (Saya) sekolah sampai kelas 5 (SD, kemudian) keluar,” kata Gonjalez saat sesi dialog bersama Mensos dan Seskab Teddy.

Gonjalez kemudian juga mengungkap keinginannya yang ingin menjadi prajurit TNI saat dewasa nanti. Dalam sesi yang sama, calon siswa Sekolah Rakyat lainnya, Putri Nana Kurnia, juga berkesempatan berdialog dengan Mensos Saifullah dan Seskab Teddy. Nana saat ini merupakan siswa kelas IX SMP, yang tengah dalam persiapan menuju kelas X SMA.

Dalam tayangan yang disiarkan saat acara, ibunya Nana merupakan seorang pedagang dengan penghasilan tak menentu, sementara itu ayahnya Nana sudah bertahun-tahun tak ada kabar. Nana sehari-hari tinggal bersama neneknya di kawasan Jakarta Pusat.

Di hadapan Mensos dan Seskab, Nana menyebut dirinya bercita-cita bisa masuk sekolah kedinasan, Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP). Selepas itu, Aljabar Nur menjadi calon siswa terakhir yang berkesempatan memperkenalkan diri di hadapan Seskab Teddy dan Mensos.

Aljabar, dengan suara bergetar menahan tangis, mengaku belum pernah bersekolah. “Perkenalkan, nama saya Muhammad Aljabar, saya asli Jakarta Timur, saya belum sekolah Pak,” kata Aljabar sambil menahan tangis.

Seskab Teddy, saat melihat itu, pun langsung memberikan semangat dan membesarkan hati Aljabar.

“Di sini gak boleh sedih lagi. Di sini nanti adik-adik semuanya belajar yang baik, diberi penginapan yang baik, nanti diberi gizi yang baik. Insyaallah bisa membanggakan keluarga. Kemudian, Insyaallah juga cita-citanya nanti tercapai semua. Amin, semangat ya,” kata Seskab Teddy kepada Aljabar dan calon siswa Sekolah Rakyat yang hadir.