Periskop.id - Lembaga Survei KedaiKOPI merilis hasil survei bertajuk "Survei Opini Pelaksanaan SPMB 2026" yang menunjukkan 66% wali murid mendukung jalur domisili dalam Sistem Penerimaan Murid Baru. Namun, dukungan itu dinilai belum terlalu kokoh.
Head of Research Lembaga Survei KedaiKOPI Ashma Nur Afifah menguraikan, angka dukungan yang terlihat mayoritas tersebut perlu dibaca lebih hati-hati. Secara rata-rata, skor dukungan responden hanya menyentuh 6,71 dari skala yang ada, sehingga masuk kategori "cukup setuju", bukan setuju penuh.
"Jadi kita bisa kategorikan 2 dari 3 responden itu setuju dengan adanya jalur domisili. Walau kalau kita lihat nilai rata-ratanya 6,71, sebenarnya dapat dikategorikan cukup setuju. Jadi walaupun ada pendukungan, tapi sebenarnya dukungannya tidak terlalu kuat," ujar Ashma dalam paparannya di YouTube Lembaga Survei KedaiKOPI, Jumat (3/7).
Di sisi lain, porsi yang menolak pun terbilang signifikan. Ashma menyebutkan, 34% responden masih bersikap resisten terhadap jalur domisili, meski prinsip serupa telah dijalankan dalam sistem penerimaan murid sekolah negeri selama sekitar sembilan tahun.
"Walaupun lebih banyak yang dukung, masih ada nih 34 persen yang resisten terhadap penerapan jalur domisili dari SPMB ini," kata dia.
Bagi kelompok pendukung, jalur domisili dinilai menguntungkan dari sisi praktis maupun keadilan. Ashma memaparkan, mayoritas dari mereka mempertimbangkan faktor jarak rumah ke sekolah sebagai alasan utama.
"Mereka juga menganggap ini bisa meringankan biaya transportasi dan juga memberikan kesempatan bagi warga di sekitar sekolah untuk masuk sekolah tersebut. Jadi dianggap lebih adil untuk warga yang tinggal di sekitar sekolah," tutur Ashma.
Sementara itu, kelompok penolak punya argumentasi berbeda. Mereka khawatir jalur domisili justru merugikan anak-anak berprestasi yang secara geografis tinggal jauh dari sekolah berkualitas.
"Bagi yang tidak mendukung jalur domisili, mereka menganggap adanya jalur domisili itu merugikan anak yang berprestasi," kata Ashma.
Survei KedaiKOPI turut mencatat masih kuatnya persepsi sekolah favorit di kalangan masyarakat. Sebanyak 80,2% responden mengakui masih ada sekolah tertentu yang menjadi incaran banyak orang tua.
Menurut Ashma, persepsi tersebut ikut berperan dalam rendahnya penerimaan terhadap jalur domisili. "Ini bisa jadi karena memang masih ada persepsi terkait dengan sekolah favorit, itu masih tinggi, dan juga ketersediaan sekolah negeri yang memang mungkin terbatas di beberapa domisili tertentu," ungkapnya.
Kekhawatiran soal potensi kecurangan juga masih membayangi. Ashma menyebutkan, sejumlah responden masih membayangkan praktik seperti titipan orang dalam, manipulasi dokumen, hingga jual beli kursi dalam proses SPMB. Hal itu disebutnya sebagai pekerjaan rumah yang perlu segera diselesaikan.
Survei ini melibatkan 585 responden yang merupakan orang tua atau wali calon murid jenjang SD hingga SMA yang berencana mendaftar ke sekolah negeri. Pengumpulan data berlangsung pada 14-22 Juni 2026 secara daring melalui metode Computer Assisted Self Interview (CASI).
Dari temuan tersebut, KedaiKOPI merekomendasikan agar pemerintah tidak hanya menggencarkan sosialisasi teknis pendaftaran, melainkan juga memperkuat pemahaman publik tentang tujuan mendasar SPMB. "Menekankan SPMB bukan hanya tentang teknis tata cara, tetapi kenapa empat jalur ini menjadi penting untuk ada," pungkas Ashma.
Tinggalkan Komentar
Komentar