periskop.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja kredit perbankan nasional terus menorehkan tren pertumbuhan positif sebesar 9,37% secara tahunan. Nilai total penyaluran pembiayaan tersebut sukses menembus angka Rp8.559 triliun pada bulan Februari.
“Pada Februari, kredit tumbuh sebesar 9,37% year-on-year menjadi Rp8.559 triliun, meningkat dibandingkan posisi Januari,” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan Hasil RDKB di Jakarta, Senin (6/4).
Laju ekspansi kredit awal tahun ini mengalami sedikit perlambatan jika dibandingkan pencapaian bulan sebelumnya. Angka pertumbuhan pembiayaan perbankan pada Januari lalu sempat menyentuh level 9,96% secara tahunan.
Sektor investasi mencatatkan realisasi penyaluran dana paling tinggi berdasarkan jenis penggunaannya. Pertumbuhan kredit investasi meroket tajam hingga mencapai 20,72% secara tahunan.
Segmen korporasi tampil sebagai penyumbang angka pertumbuhan terbesar dari sisi profil debitur dengan capaian 14,74%. Kelompok perbankan BUMN mendominasi pergerakan kredit secara keseluruhan lewat lonjakan 12,78%.
Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) di industri perbankan tetap tumbuh solid menyentuh total Rp10.101 triliun. Angka ini mencerminkan kenaikan 13,18% dibandingkan realisasi pada tahun sebelumnya.
Simpanan giro memimpin laju pertumbuhan DPK dengan lonjakan impresif sebesar 18,56%. Instrumen deposito dan tabungan menyusul ketat di belakangnya dengan kenaikan masing-masing 13% serta 8,12%.
Likuiditas perbankan nasional saat ini tergolong sangat memadai dan jauh melampaui batas aman. Rasio alat likuid terhadap non-core deposit bertahan kokoh pada 121,29%, sementara alat likuid terhadap DPK mencapai 27,4%.
Kualitas aset terjaga amat baik di tengah masifnya perputaran penyaluran pembiayaan. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross tercatat rendah di 2,17% dengan NPL net pada 0,83%.
Tingkat profitabilitas perbankan mengalami sedikit koreksi menjadi 2,37% dari sebelumnya 2,49%. Rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) tetap sangat tebal pada angka 25,83% sebagai bantalan menghadapi krisis global.
Otoritas berkesimpulan industri keuangan domestik tetap tangguh menghadapi berbagai tantangan ekonomi. “Berdasarkan Survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK, triwulan pertama menunjukkan kinerja perbankan tetap solid dengan risiko yang terjaga,” katanya.
Tinggalkan Komentar
Komentar