periskop.id - Indonesia dan Filipina resmi menjalin kerja sama dagang melalui skema barter dengan penandatanganan dua nota kesepahaman imbal dagang tripartit. Seluruh transaksi dalam skema ini dijalankan tanpa menggunakan dolar AS sebagai alat pembayaran.
Menteri Perdagangan Budi Santoso hadir langsung menyaksikan prosesi penandatanganan. Ia menjelaskan, kedua MoU tersebut melibatkan sejumlah perusahaan dari kedua negara dengan komoditas berbeda di tiap perjanjian.
"Ini sistem barter, jadi kita tidak menggunakan mata uang dolar," ujar Mendag Budi Santoso usai menyaksikan penandatanganan di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (8/4).
MoU pertama melibatkan Asian Pyrochem Technologies dari Filipina, PT Trade Barter Indonesia (TBI), dan Asosiasi Garment dan Tekstil Indonesia (AGTI). Ketiga pihak sepakat menukar serat abaka mentah dengan produk tekstil jadi.
Budi menjelaskan, serat abaka berasal dari pohon sejenis pisang yang tumbuh di Filipina. Bahan mentah itu kemudian diolah oleh perusahaan-perusahaan anggota AGTI menjadi produk tekstil siap ekspor di Indonesia.
"Serat abaka ini untuk bahan baku tekstil. Kita impor abaka, diolah oleh perusahaan anggota AGTI menjadi produk tekstil, dan nanti produk tekstilnya diekspor ke Filipina," ungkapnya.
Sementara itu, MoU kedua mengatur pertukaran komoditas berbeda. Asian Pyrochem Technologies, PT Trade Barter Indonesia, dan PT Krakatau Global Trading sepakat menukar produk baja dengan bijih besi (iron ore) asal Filipina guna memenuhi kebutuhan produksi Krakatau Steel.
Dalam kedua kesepakatan tersebut, PT Trade Barter Indonesia berperan sebagai agen yang memfasilitasi seluruh kontrak dagang berskema barter. Perusahaan ini menjadi penghubung bagi transaksi antarnegara yang sepenuhnya melepaskan ketergantungan pada mata uang asing.
Skema imbal dagang tripartit ini dinilai sebagai model baru kerja sama bilateral di kawasan Asia Tenggara. Kedua negara memanfaatkan keunggulan komoditas masing-masing tanpa bergantung pada konvertibilitas mata uang.
Penandatanganan di Jakarta turut memperkuat hubungan dagang Indonesia dan Filipina dalam kerangka yang lebih strategis. Dua perjanjian sekaligus diteken dalam satu waktu, mencakup sektor tekstil dan industri baja.
"Kita impor iron ore untuk bahan baku. Setelah diproses oleh grup Krakatau Steel, kemudian abakanya kita ekspor ke Filipina," terang Mendag.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar