periskop.id - PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) melaporkan aktivitas eksplorasi berjalan sesuai rencana dalam laporan bulanan terbaru yang disampaikan kepada otoritas. Kegiatan eksplorasi difokuskan pada area tambang eksisting sebagai upaya menjaga keberlanjutan cadangan sekaligus menopang target produksi jangka panjang.
Dalam laporan tersebut, tidak terdapat perubahan material yang signifikan baik dari sisi sumber daya maupun cadangan batu bara. Aktivitas eksplorasi masih didominasi oleh pengeboran lanjutan (infill drilling) serta validasi data geologi guna meningkatkan tingkat keyakinan cadangan. Strategi ini menjadi bagian dari upaya perseroan menjaga kesinambungan operasi di tengah dinamika industri batu bara global.
“PTBA terus memperkuat strategi eksplorasi yang terukur dan berkelanjutan untuk memastikan ketersediaan cadangan dalam jangka panjang. Langkah ini juga menjadi fondasi penting dalam mendukung pertumbuhan kinerja operasional Perseroan,” ujar Corporate Secretary Division Head PT Bukit Asam (Persero) Tbk Eko Prayitno dalam keterbukaan informasi Bursa, Rabu (8/4).
Sejalan dengan aktivitas eksplorasi yang terjaga, kinerja operasional PTBA sepanjang tahun buku 2025 mencatatkan pertumbuhan positif. Perseroan membukukan volume produksi sebesar 47,19 juta ton atau meningkat 9% secara tahunan (year-on-year/YoY). Sementara itu, volume penjualan turut naik 6% YoY menjadi 45,43 juta ton.
Dari sisi keuangan, PTBA mencatat laba bersih sebesar Rp2,93 triliun pada 2025. Meski menurun dibandingkan tahun sebelumnya, capaian ini mencerminkan ketahanan kinerja di tengah tekanan harga batu bara global. Penurunan harga acuan, seperti Newcastle Coal Index (NCI) yang turun 22% dan ICI-3 yang melemah 16%, turut menekan harga jual rata-rata (ASP) sebesar 6% YoY.
Pendapatan usaha tercatat relatif stabil di level Rp42,65 triliun, didorong oleh peningkatan volume penjualan. Namun demikian, kenaikan beban pokok pendapatan sebesar 5% serta tekanan harga komoditas menyebabkan laba usaha terkoreksi hingga 43% YoY.
Di tengah tekanan tersebut, PTBA tetap melanjutkan belanja modal sebesar Rp4,55 triliun, yang sebagian besar dialokasikan untuk pengembangan infrastruktur angkutan batu bara. Investasi ini dinilai strategis dalam meningkatkan efisiensi logistik serta mendukung ekspansi volume produksi ke depan.
Selain itu, perseroan juga mencatatkan arus kas operasional yang kuat, dengan pertumbuhan 24% YoY menjadi Rp6,26 triliun. Hal ini mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menjaga likuiditas dan stabilitas keuangan di tengah kondisi pasar yang menantang.
“Di tengah dinamika harga batu bara global, Perseroan tetap fokus pada efisiensi biaya dan optimalisasi kinerja operasional. Kami optimistis dapat menjaga kinerja yang resilien sekaligus menangkap peluang dari potensi perbaikan harga ke depan,” tambah Eko.
Untuk tahun 2026, PTBA menargetkan volume produksi sebesar 49,55 juta ton dan penjualan 49,51 juta ton. Dengan strategi cost leadership dan optimalisasi pasar, perseroan optimistis dapat mempertahankan kinerja sekaligus memperkuat daya saing di industri energi.
Secara keseluruhan, kesinambungan aktivitas eksplorasi yang stabil menjadi fondasi utama bagi PTBA dalam menopang pertumbuhan operasional serta menjaga ketahanan kinerja di tengah volatilitas pasar energi global.
Tinggalkan Komentar
Komentar