periskop.id - Pasar residensial nasional pada akhir 2025 menunjukkan kondisi yang relatif stabil di tengah penyesuaian daya beli dan perubahan preferensi hunian masyarakat. Permintaan masih terjaga terutama pada segmen rumah kecil dan menengah, sementara pasar sewa mulai mengambil peran yang semakin signifikan.

Kondisi ini tercermin dari data Pinhome Home Sell Index (PHSI) dan Pinhome Home Rental Index (PHRI) kuartal IV 2025. Secara nasional, Indeks Harga Jual Rumah mengalami kenaikan tipis 0,4% dibanding kuartal sebelumnya, dengan pertumbuhan tahunan yang sama sebesar 0,4%. Rumah kecil tetap menjadi penopang utama pasar dengan pertumbuhan 0,8%, di mana tipe 55–120 naik 0,5% dan tipe 121-200 naik 0,3%.

Sebaliknya, rumah besar ≥201 mengalami koreksi tipis 0,9%. Menurut CEO Pinhome Dayu Dara Permata, segmen kecil dan menengah tetap menjadi favorit masyarakat, sementara rumah besar mengalami penurunan karena sebagian konsumen menunda pembelian atau beralih ke opsi sewa di kota inti, ditambah meningkatnya inventori di beberapa wilayah komuter.

“Segmen menengah dan kecil tetap jadi favorit masyarakat, sementara rumah besar mengalami penurunan yang berkaitan dengan kecenderungan konsumen menunda pembelian atau beralih ke opsi sewa di kota Inti, serta peningkatan inventori di beberapa wilayah komuter,” jelas Dayu, Rabu (11/3).

 

Pergerakan Harga Rumah di DKI Jakarta

Di Jakarta, dinamika harga bervariasi antar wilayah. Di Jakarta Utara, tipe 55–120 di Tanjung Priok turun 5% dan tipe 121–200 turun 3% akibat kekhawatiran banjir rob, tetapi rumah tipe kecil ≤54 justru naik 3%, menandakan ketahanan segmen hunian kecil.

Di Jakarta Barat, rumah tipe kecil ≤54 di Kembangan naik 3% karena harga yang lebih kompetitif, sedangkan tipe menengah 121–200 di Kalideres naik 2% berkat konektivitas dan kedekatan dengan Bandara Soekarno-Hatta. Jakarta Pusat menunjukkan penguatan relatif merata di Kemayoran, dengan tipe besar dan tipe menengah masing-masing naik 3%, dan tipe kecil naik 2%, meskipun tipe menengah di beberapa kawasan justru menurun.

Sementara itu, di Jakarta Timur, rumah tipe menengah 121–200 naik 2–3% seiring akses dan infrastruktur yang lebih baik, tetapi tipe kecil 55–120 di Kramat Jati menurun 3%. Di Jakarta Selatan, terjadi koreksi pada rumah tipe kecil ≤54di Jagakarsa dan Pasar Minggu, mencerminkan sikap pembeli yang lebih berhati-hati.

 

Pergerakan Harga di Bodetabek, Banten, dan Wilayah Lain

Di kawasan Bodetabek dan Banten, penyesuaian harga terjadi secara selektif. Rumah tipe kecil ≤54 naik 2% di Kota Tangerang, tetapi turun 3% di Kota Serang. Rumah besar ≥201 naik 3% di Kota Bogor, sementara di Kabupaten Bogor dan Kabupaten Bekasi menurun 2–3% karena peningkatan inventori mendesak pada semester II 2025. Sebaliknya, rumah tipe menengah 121–200 di Kabupaten Bogor justru naik 3%, menunjukkan ketahanan segmen ini.

Wilayah lain di Indonesia juga menunjukkan variasi pergerakan. Di Jawa Barat, rumah besar turun 3% di Kabupaten Bandung dan Cimahi, sementara di Cirebon turun di kota dan stagnan di kabupaten.

Di Bali, rumah tipe menengah di Denpasar naik 2%, sedangkan NTB mencatat stagnasi harga. Sumatera mencatat penguatan di Palembang dan Pekanbaru antara 2–3%, sedangkan di Kalimantan dan Sulawesi beberapa tipe rumah naik sekitar 2%, dan Maluku serta Papuamengalami koreksi terbatas pada tipe tertentu.

 

Pasar Sewa Rumah: Stabil dan Menguat di Segmen Menengah & Besar

Pasar sewa rumah nasional pada kuartal IV 2025 menunjukkan stabilitas, dengan indeks harga sewa naik 0,6% kuartalan, meskipun secara tahunan turun 1%. Kenaikan kuartalan terjadi di seluruh tipe rumah, terutama pada segmen menengah dan besar, yang mencerminkan fase stabilisasi pasar sewa setelah penyesuaian harga sebelumnya.

Harga sewa rumah tipe ≤54 naik 0,4%, tipe 55–120 naik 0,1%, tipe 121–200 dan ≥201 masing-masing naik 0,5%. Secara tahunan, segmen menengah dan besar menunjukkan pertumbuhan lebih signifikan: tipe 55–120 naik 1,5%, tipe 121–200naik 1,6%, dan tipe ≥201 naik 2,3%.

Permintaan tetap tinggi dari kalangan profesional dan ekspatriat di pusat aktivitas ekonomi seperti Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Bekasi, sementara tipe kecil masih sedikit menurun karena inventori rumah seken yang meningkat.

Di Jakarta, tingginya biaya hidup mendorong peralihan ke sewa. Di kawasan penyangga, Bekasi mencatat penguatan, sementara Depok dan Bogor mengalami penyesuaian harga yang bervariasi. Di Bandung Raya, pembangunan infrastruktur transportasi mendorong permintaan sewa, dan di Jawa Tengah, Jawa Timur, serta Bali, harga sewa menyesuaikan sesuai segmen dan lokasi.

 

Prospek Pasar Properti 2026

Memasuki 2026, pasar properti nasional berpotensi memasuki fase ekspansi setelah konsolidasi sepanjang 2025. Penguatan fundamental ekonomi, pelonggaran pembiayaan, kepastian insentif perumahan, serta pertumbuhan regional yang lebih merata menjadi faktor pendorong utama.

“Dengan stabilitas makro yang terjaga dan kebijakan yang konsisten, 2026 akan menjadi tahun normalisasi pasar properti,” ujar Dara.

Kondisi ini diharapkan memulihkan transaksi yang tertunda, memperkuat intermediasi perbankan, dan mendorong pembangunan di berbagai wilayah, termasuk luar Pulau Jawa.