periskop.id - Pilihan antara menyewa rumah atau mengambil Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih menjadi pertimbangan banyak orang, terutama generasi muda.

Bagi Gupita, seorang home living creator, keputusan itu berujung pada membeli rumah bekas melalui skema KPR. Langkah ini ia anggap lebih menguntungkan secara jangka panjang.

Gupita mengungkapkan bahwa keputusan membeli rumah bukan sekadar soal tempat tinggal, melainkan bagian dari perencanaan hidup.

“Membeli rumah pertama bukan sekadar soal punya tempat tinggal, tapi perjalanan panjang yang penuh pertimbangan dan komitmen,” ujar Gupita, dikutip dari Pinhome, Selasa (14/4).

Ia mengaku sempat mempertimbangkan opsi menyewa karena dinilai lebih fleksibel dan tidak membutuhkan komitmen finansial besar di awal. Namun, menurutnya, biaya sewa tidak memberikan nilai aset dalam jangka panjang.

Berbeda dengan KPR, meski membutuhkan komitmen cicilan bertahun-tahun, skema ini memberikan kepemilikan properti yang bisa menjadi investasi.

Gupita akhirnya memilih rumah bekas karena dinilai lebih terjangkau dengan ukuran lebih luas, serta berada di lingkungan yang sudah terbentuk.

“Lingkungan yang aman dan akses yang mudah jadi pertimbangan penting saat mencari rumah,” tuturnya.

Meski demikian, proses KPR yang dijalani tidak mudah. Ia harus melalui berbagai tahapan, mulai dari pengajuan dokumen hingga memahami skema bunga yang berlaku.

“Proses KPR bisa memakan waktu berbulan-bulan, termasuk negosiasi dan simulasi cicilan,” kata Gupita.

Salah satu tantangan terbesar dalam KPR adalah fase bunga mengambang (floating), yang dapat membuat cicilan meningkat. Karena itu, diperlukan strategi pembayaran agar beban tidak semakin besar.

Menghadapi hal tersebut, Gupita memilih untuk mempercepat pelunasan dengan meningkatkan jumlah cicilan secara berkala. Strategi ini membuat pokok utang lebih cepat berkurang.

“Angsuran makin turun, jadi bisa menabung lebih untuk bayar lebih cepat,” ujarnya.

Dengan pendekatan tersebut, KPR yang awalnya memiliki tenor 15 tahun berhasil ia lunasi dalam waktu enam tahun.

Keputusan antara sewa atau KPR sangat bergantung pada tujuan finansial masing-masing. Jika mengutamakan fleksibilitas, sewa bisa menjadi pilihan. Namun, bagi yang ingin membangun aset jangka panjang, KPR terutama untuk rumah bekas dapat menjadi strategi yang lebih menguntungkan.