periskop.id - PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) menutup tahun 2025 dengan torehan kinerja yang menonjol. Laba bersih perseroan mencapai Rp1,16 triliun, melonjak 22,5% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp950 miliar.

Peningkatan ini sejalan dengan pendapatan yang tumbuh 5,2% menjadi Rp9,95 triliun, menegaskan pertumbuhan bisnis Siloam meski tantangan sektor kesehatan tetap ada.

"Tahun 2025 merupakan tahun yang penting bagi Siloam seiring dimulainya implementasi strategi Next Gen Siloam, dengan transisi menuju operating archetype yang lebih terfokus pada segmen pasien yang dituju. Hal ini memungkinkan penyelarasan yang lebih baik atas kapabilitas klinis, alokasi modal, dan sumber daya operasional untuk mendukung ekspansi yang berkelanjutan," ucap Presiden Direktur Siloam Davidi Utama dalam keterangannya Selasa (31/3).

Dari sisi operasional, rumah sakit ini mencatatkan 317.900 pasien rawat inap di 2025 dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 326.030. Layanan rawat jalan juga menjadi motor utama pertumbuhan, dengan jumlah kunjungan tembus 4,35 juta naik 2,5% dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain itu, ekspansi kapasitas menjadi salah satu strategi utama Siloam. Pada 2025, jumlah tempat tidur operasional bertambah menjadi 4.310 unit, naik 4,3% dari tahun sebelumnya. Namun, tingkat keterisian tempat tidur (BOR) sedikit menurun menjadi 64,2%, menandakan ada ruang untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan fasilitas rawat inap.

Meskipun demikian, total hari perawatan tetap mengalami pertumbuhan, memperlihatkan bahwa peningkatan kapasitas mulai memberikan kontribusi terhadap layanan secara keseluruhan. Di sisi profitabilitas, EBITDA perseroan tumbuh 18,3% menjadi Rp2,89 triliun, dengan margin yang tetap sehat di level 29,1%.

Selanjutnya, posisi keuangan Siloam juga solid, dengan total aset mencapai Rp14,49 triliun, liabilitas Rp4,56 triliun, dan ekuitas Rp9,92 triliun, menunjukkan pondasi yang kuat untuk mendukung ekspansi di masa mendatang.

Melihat tren kuartalan, kuartal keempat 2025 menunjukkan jumlah pasien rawat inap menurun tipis menjadi 80.548, sementara layanan rawat jalan tetap stabil dengan kenaikan 0,4%. Dengan kombinasi ekspansi kapasitas, pertumbuhan layanan rawat jalan, dan efisiensi operasional yang meningkat, Siloam memperlihatkan strategi yang matang dalam mempertahankan posisinya sebagai salah satu jaringan rumah sakit swasta terdepan di Indonesia.

"Perbaikan kinerja secara bertahap serta momentum positif hingga awal 2026 semakin memperkuat keyakinan manajemen bahwatransisi archetype ini berjalan sesuai rencana dan mulai memberikan hasil secara terukur, sehingga menempatkan Siloam pada posisi yang lebih kuat untuk pertumbuhan yang lebih terfokus dan berkelanjutan ke depan," tutup Davidi.