periskop.id - Pergerakan pasar keuangan global dan domestik mulai menunjukkan arah yang lebih konstruktif seiring meredanya sejumlah tekanan eksternal. Kondisi ini turut memberi ruang bagi pasar saham Indonesia untuk bergerak lebih stabil, meski sejumlah indikator domestik masih menjadi perhatian pelaku pasar.

Pengamat sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana menilai dinamika global saat ini memberikan sentimen positif, terutama setelah tensi geopolitik di Timur Tengah mulai mereda dan berdampak pada sektor energi.

Sentimen Global dan Harga Minyak

“Meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah menjadi katalis positif bagi pasar global dan domestik. Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran serta mulai normalnya jalur distribusi energi melalui Selat Hormuz mendorong penurunan harga minyak dunia hingga sekitar 4%,” ujar Hendra.

Ia menjelaskan, turunnya harga minyak menjadi faktor penting karena berpotensi meredakan tekanan inflasi global sekaligus menurunkan biaya energi. Kondisi ini juga membuka peluang bagi kebijakan moneter yang lebih fleksibel.

“Kondisi ini disambut positif oleh pasar keuangan global, tercermin dari penguatan indeks saham di Wall Street yang kembali mencetak rekor. Dampaknya, aliran modal berpotensi kembali masuk ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia,” jelasnya.

Kualitas Pertumbuhan Ekonomi Domestik

Di sisi lain, Hendra menyoroti bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 yang mencapai 5,61% secara tahunan memang melampaui ekspektasi. Namun, ia menilai struktur pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya kuat.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 yang mencapai 5,61% YoY memang melampaui ekspektasi, namun masih didominasi oleh dorongan fiskal dan program pemerintah. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama, sementara investasi mulai tumbuh seiring proyek hilirisasi, meskipun efeknya ke ekonomi riil belum merata,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa kondisi ini mencerminkan kualitas pertumbuhan yang belum merata di berbagai sektor.

“Ini memperkuat pandangan bahwa pertumbuhan saat ini masih bersifat ‘growth without depth’, sehingga pasar masih menunggu konfirmasi dari perbaikan indikator riil dan kembalinya arus dana asing,” kata Hendra.

Tekanan Rupiah dan Ketidakseimbangan Eksternal

Lebih lanjut, Hendra juga menyoroti pergerakan nilai tukar rupiah yang masih berada di level relatif lemah. Menurutnya, kondisi ini berkaitan dengan ketidakseimbangan pada sektor eksternal.

“Tekanan terhadap Rupiah yang masih berada di kisaran Rp17.400 per dolar AS juga mencerminkan ketidakseimbangan eksternal, di mana pertumbuhan impor yang lebih tinggi dibanding ekspor meningkatkan kebutuhan valuta asing,” ujarnya.

Hal ini, lanjut dia, menjadi salah satu faktor yang membuat pelaku pasar masih cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi.

Proyeksi IHSG dan Strategi Investor

Dengan kombinasi sentimen global yang membaik dan tantangan domestik yang masih ada, Hendra memproyeksikan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melanjutkan penguatan secara terbatas.

“Pergerakan IHSG hari ini berpotensi melanjutkan penguatan secara terbatas dengan kecenderungan menguji area resistance di level 7.151. Jika level ini berhasil ditembus, maka IHSG berpeluang melanjutkan kenaikan menuju area 7.200,” ujarnya.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa ruang penguatan masih bergantung pada kekuatan breakout yang terjadi di pasar.

“Selama belum terjadi breakout yang kuat, pergerakan indeks diperkirakan masih akan bergerak dalam rentang konsolidasi di kisaran 7.000 hingga 7.200,” tambahnya.

Dalam kondisi tersebut, Hendra menyarankan investor untuk tetap selektif dalam memilih saham.

“Oleh karena itu, strategi yang lebih tepat adalah tetap selektif dengan fokus pada saham-saham yang memiliki katalis dan momentum teknikal,” katanya.

Ia pun menyebut sejumlah saham yang menarik untuk dicermati, yakni BUVA dengan target 1.205, CUAN dengan target 1.500, PTRO dengan target 6.300, serta SCMA dengan pendekatan trading buy menuju level 290.

“Beberapa saham yang menarik untuk diperhatikan antara lain BUVA dengan target 1.205, CUAN dengan target 1.500, PTRO dengan target 6.300, serta SCMA dengan pendekatan trading buy menuju level 290, sembari tetap disiplin dalam manajemen risiko di tengah pasar yang mulai membaik namun belum sepenuhnya solid,” tutupnya.