periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk tajam pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026. Hingga penutupan sesi I, IHSG tercatat anjlok 305,943 poin atau 4,94% ke level 5.889,483, sekaligus jebol di bawah level psikologis 6.000. Sepanjang sesi, indeks bergerak di rentang 5.876 hingga 6.213, dengan pembukaan di level 6.207.
Tekanan jual terjadi masif di hampir seluruh sektor. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp14,75 triliun dengan volume 23,11 miliar saham dan frekuensi 1,74 juta kali transaksi. Sektor bahan baku (basic materials) menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 10,34%, diikuti sektor energi turun 7,16% dan infrastruktur melemah 6,73%.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut terseret dalam koreksi tajam. Di antaranya AMMN yang ambles 14,91%, BRPT turun 13,47%, serta MDKA melemah 13,26%. Sementara itu, dari sisi nilai transaksi, saham seperti TPIA, AMMN, dan BBCA menjadi kontributor utama aktivitas perdagangan, meski mayoritas ditutup di zona merah.
Phintraco Sekuritas dalam risetnya mengungkapkan, koreksi signifikan IHSG dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari sisi global, kembali memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mendorong kenaikan harga minyak dunia, yang meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi global.
Kondisi tersebut turut menekan nilai tukar rupiah yang melemah ke level Rp17.925 per dolar AS. Pelemahan rupiah memicu kekhawatiran akan membengkaknya defisit anggaran serta tekanan inflasi domestik.
“Rupiah kembali tertekan, melemah menembus level Rp17,926 per dolar AS, yang antara lain disebabkan oleh berbalik menguatnya kembali harga minyak dunia yang menambah kekhawatiran pasar akan potensi melebarnya defisit APBN serta meningkatnya laju inflasi,” jelas Phintraco.
Tercatat, inflasi Indonesia pada Mei 2026 telah mencapai 3,08% secara tahunan. Meski masih dalam target Bank Indonesia di kisaran 1,5% hingga 3,5%, risiko inflasi dinilai meningkat jika harga energi bertahan tinggi. Hal ini membuka peluang kenaikan suku bunga acuan (BI Rate), yang berpotensi menjadi sentimen negatif tambahan bagi pasar saham.
Dari sisi domestik, pasar juga dibayangi sentimen negatif terkait penilaian lembaga pemeringkat internasional. Moody’s menetapkan peringkat Baa2 dengan outlook negatif untuk Danantara Investment Management, yang menambah kekhawatiran investor terhadap stabilitas sektor keuangan.
“Selain itu, pelaku pasar tengah mencermati keputusan penting dari MSCI pada Juni 2026. MSCI dijadwalkan merilis Global Market Accessibility Review pada 18 Juni dan Annual Market Classification Review pada 23 Juni 2026,” tulis riset yang sama.
Sebelumnya, MSCI menyoroti isu transparansi kepemilikan saham dan likuiditas di pasar modal Indonesia, serta membuka peluang peninjauan status Indonesia sebagai emerging market. Ketidakpastian ini mendorong investor cenderung bersikap wait and see dan mengurangi eksposur risiko.
Dengan kombinasi tekanan global, pelemahan rupiah, serta ketidakpastian kebijakan dan status pasar, IHSG menghadapi tekanan berat dalam jangka pendek dan berisiko melanjutkan volatilitas tinggi.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar