Periskop.id - IHSG diproyeksi melanjutkan penguatan pada perdagangan Senin (13/7), namun tren positif ini berjalan beriringan dengan sejumlah sentimen negatif dari dalam dan luar negeri. Analis memperkirakan indeks masih berpeluang naik secara teknikal, tapi ancaman downgrade status pasar modal Indonesia hingga data inflasi Amerika Serikat berpotensi menahan laju kenaikan.

Pada penutupan perdagangan Jumat (10/7), IHSG menguat 11,91 poin atau 0,20% ke level 5.942. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp8,85 triliun dengan 18,51 miliar saham diperdagangkan, sementara 364 saham menguat berbanding 241 yang terkoreksi.

Proyeksi Teknikal IHSG Awal Pekan

Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan meski risiko koreksi jangka pendek tetap perlu dicermati. "Kami memperkirakan IHSG berpotensi menguat menguji area 6.083-6.203, namun tetap cermati peluang koreksi ke kisaran 5.752-5.797," jelasnya dalam riset harian.

Herditya memproyeksikan level support IHSG berada di 5.486 dan 5.317, sementara resistance di 6.007 dan 6.286.

Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova punya pandangan senada, meski dengan syarat teknikal berbeda. Menurutnya, penguatan lanjutan baru terbuka apabila indeks mampu menembus resistance di level 5.965.

"Jika berhasil melewati 5.965, IHSG berpotensi menguat menuju area 6.051-6.083. Namun jika gagal menembus level tersebut, indeks diperkirakan terkoreksi ke 5.797," paparnya. Ivan memprediksi support IHSG berada di 5.871, 5.739, 5.607, dan 5.472, dengan resistance di 6.083, 6.256, 6.545, dan 6.835.

Ancaman Downgrade Status Pasar dari S&P DJI

Di balik optimisme teknikal, pelaku pasar tengah menyoroti hasil pertemuan antara Bursa Efek Indonesia (BEI) dan S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) yang dapat memengaruhi persepsi investor terhadap pasar saham Indonesia. Indonesia bersama Turki telah masuk daftar pantauan penyedia indeks global tersebut.

S&P DJI membuka peluang untuk menurunkan status pasar modal Indonesia dari kategori emerging market menjadi frontier market, sebuah skenario yang memicu sikap wait and see di kalangan investor.

Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai IHSG dalam jangka pendek masih berpeluang bergerak terbatas atau sideways. Selain menanti perkembangan dari S&P DJI, ia menyebut pasar juga mencermati meningkatnya tensi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, yang berpotensi mengganggu pasokan energi global lewat Selat Hormuz.

Data Inflasi AS dan Tekanan Arus Modal Asing

Dari sisi eksternal, pasar juga menanti rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat untuk Juni 2026 yang dijadwalkan Selasa (14/7). Sebagai catatan, inflasi AS pada Mei 2026 sempat naik menjadi 4,2% secara tahunan dari 3,8% pada April, angka yang berpotensi memengaruhi ekspektasi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.

Tim Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia memproyeksikan IHSG bergerak volatil dengan kecenderungan sideways hingga bearish sepanjang pekan ini. Secara teknikal, Kiwoom melihat area resistance berada di kisaran 5.950 hingga 5.987.

Apabila indeks menembus ke bawah level 5.900, tekanan jual berpotensi membawa IHSG menguji area support di rentang 5.839 hingga 5.805. Kiwoom menambahkan, tekanan terhadap IHSG bukan hanya berasal dari faktor geopolitik global, melainkan juga derasnya arus keluar dana asing yang masih membayangi pasar saham domestik.

Rekomendasi Saham Pilihan Analis

Di tengah dinamika sentimen tersebut, MNC Sekuritas merekomendasikan empat saham untuk dicermati, yakni ARCI, BMRI, MINA, dan TAPG. ARCI menguat 4,71% ke level 1.000 dengan rekomendasi buy on weakness di kisaran 970-995 dan target harga 1.115-1.225.

BMRI yang menguat 0,99% ke 4.080 direkomendasikan buy on weakness di rentang 3.780-3.850 dengan target 4.180-4.270. Sementara MINA yang justru terkoreksi 1,45% ke 272 masuk kategori trading buy di kisaran 250-266 dengan target 310-336.

TAPG yang menguat 0,98% ke 1.540 juga direkomendasikan buy on weakness di rentang 1.490-1.530 dengan target 1.625-1.700. Di sisi lain, Ivan Rosanova dari Binaartha Sekuritas merekomendasikan saham berbeda, yaitu AMRT, ANTM, BUMI, dan EMTK.

*Disclaimer

Tulisan ini bukan merupakan ajakan membeli