Periskop.id - Hongmei Wang, seorang ahli biologi terkemuka asal Mongolia Dalam, kini berdiri di garis depan dalam menghadapi salah satu tantangan terbesar peradaban modern. 

Peneliti di State Key Laboratory of Stem Cell and Reproductive Biology Laboratory di Beijing ini mendedikasikan karyanya untuk memahami tahap awal perkembangan manusia. Bidang riset ini menjadi krusial di saat China tengah tenggelam dalam krisis demografi terburuk sepanjang sejarah dunia.

Persoalan ini sebenarnya juga menghantui banyak negara demokrasi Barat, namun di China, skalanya jauh lebih masif. Populasi yang menua dan angka kelahiran yang merosot tajam mengancam keberlanjutan sistem kesehatan serta ekonomi akibat menyusutnya tenaga kerja. 

Meski pemerintah telah melonggarkan kebijakan jumlah anak, warga tetap ragu untuk memperbesar keluarga. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa jika tren ini berlanjut, populasi China bisa berkurang hingga separuhnya pada akhir abad ini.

Dari Kebijakan Satu Anak ke Riset Perpanjangan Kesuburan

Kondisi saat ini berbanding terbalik dengan masa kecil Wang yang lahir pada 1973. Enam tahun setelah kelahirannya, pemimpin komunis Deng Xiaoping menetapkan kebijakan satu anak sebagai strategi mengatasi kemiskinan dan ledakan penduduk. 

Ironisnya, laboratorium tempat Wang bekerja yang dulunya dikenal sebagai Laboratorium Keluarga Berencana, kini justru berfokus mencari cara untuk memperpanjang masa reproduksi manusia.

Salah satu fokus utama riset Wang adalah mengeksplorasi kemungkinan menunda masa menopause. Melalui studi pada tikus, Wang melihat adanya peluang tersebut, namun ia tetap memberikan catatan kritis mengenai keseimbangan hormon tubuh.

“Jika kami menghambat ovulasi, kami dapat mempertahankan sel telur yang tersedia, tetapi pada saat yang sama, kami menghambat produksi estrogen, yang merupakan molekul sangat penting bagi kesehatan,” kata Wang sebagaimana dikutip oleh EL PAÍS pada Rabu (7/1).

Pernyataan tersebut menggambarkan tantangan biologis yang kompleks. Perempuan lahir dengan jumlah sel telur yang terbatas, yakni sekitar 400, yang berfungsi sejak pubertas hingga menopause.

Wang menilai bahwa menunda menopause meski hanya satu tahun akan memiliki dampak sosial yang luar biasa besar bagi keberlangsungan populasi.

Terobosan Sel Punca

Tim peneliti di bawah arahan Wang telah mencatat kemajuan signifikan dalam memperpanjang kesuburan. 

Dalam sebuah studi dasar, para ilmuwan berhasil menyuntikkan sel punca manusia ke ovarium monyet yang steril. Prosedur ini membuahkan hasil yang membanggakan bagi tim peneliti.

“Prosedur itu menghasilkan kelahiran seekor bayi monyet, yang hingga kini masih hidup dan sehat,” ujar Wang dengan nada bangga.

Keberhasilan ini dilanjutkan ke tahap uji klinis kecil terhadap 63 perempuan yang mengalami kegagalan ovarium prematur, sebuah kondisi yang memicu ketidaksuburan di tengah masa reproduktif. 

Wang mengungkapkan bahwa transplantasi sel punca memungkinkan empat di antara peserta tersebut melahirkan bayi yang sehat. Metode inovatif ini telah dipatenkan dan dilisensikan kepada perusahaan swasta untuk pengembangan lebih lanjut.

Selain itu, Wang tengah mengeksplorasi gagasan revolusioner melalui percobaan pada tikus, yakni kemungkinan membuat perempuan hanya mengalami menstruasi setiap tiga bulan sekali. Tujuannya adalah untuk mempertahankan sel telur sehat yang masih tersedia agar dapat digunakan untuk kehamilan di masa depan.

Menguak Misteri Gastrulasi dan Hambatan Hukum

Di luar masalah kesuburan, Wang berupaya menyingkap misteri tahap awal perkembangan embrio, khususnya proses yang disebut gastrulasi. 

Dua minggu setelah pembuahan, embrio memulai "tarian" koreografi presisi untuk membentuk rancangan tiga dimensi tubuh dan organ. Hingga kini, sains belum mengetahui secara pasti bagaimana sel-sel yang identik bisa "tahu" harus berubah menjadi organ tertentu.

Hambatan utama riset ini adalah ketersediaan embrio manusia pada tahap yang tepat serta aturan hukum yang melarang pembiakan embrio melewati batas 14 hari. 

Namun, Wang memprediksi regulasi di China dan negara lain akan segera disesuaikan menjadi 20 atau 28 hari agar proses gastrulasi dapat dipelajari secara utuh. Hal ini dianggap penting karena hampir separuh proses pembuahan alami mengalami kegagalan pada minggu krusial tersebut.

Dalam risetnya, Wang berkolaborasi dengan Profesor Alfonso Martínez Arias dari Pompeu Fabra University untuk menciptakan organoid atau model embrio dari sel punca. 

Model ini memungkinkan studi dilakukan tanpa terbentur hambatan hukum. Wang juga memberikan perhatian khusus pada plasenta, organ yang sering terabaikan namun memiliki struktur yang luar biasa besar dan kompleks sebelum kelahiran.

“Tepat sebelum kelahiran, plasenta mengandung sekitar 58.000 inti sel dan berukuran 172 kaki persegi. Tidak ada struktur lain dalam tubuh sebesar itu yang menjadi bagian dari suatu organ,” jelasnya.

Meski bersemangat dengan temuan teknisnya, Wang menyadari bahwa riset ini mungkin tidak cukup cepat untuk menghentikan krisis demografi yang tengah terjadi. Ia juga sangat sadar akan batasan etika dalam setiap eksperimen yang dilakukan.

Ilmuwan China tersebut menutup penjelasannya dengan sebuah pertanyaan reflektif mengenai batas antara kemampuan teknis dan keinginan masyarakat.

“Satu hal adalah sesuatu mungkin dilakukan dari sudut pandang teknis, seperti menunda menstruasi atau memperpanjang masa reproduksi. Hal lain adalah apakah orang benar-benar menginginkan hal itu dilakukan,” pungkasnya.