Periskop.id - Belgia kembali gagal meraih kemenangan di Piala Dunia 2026 setelah ditahan imbang Iran 0-0 pada laga Grup G di Los Angeles Stadium, Amerika Serikat. The Red Devils tampil dominan dalam penguasaan bola, tetapi tak mampu menembus rapatnya pertahanan Team Melli yang dikawal gemilang oleh Alireza Beiranvand.

Hasil ini membuat Belgia dan Iran sama-sama belum menang dalam dua pertandingan awal fase grup. Keduanya kini mengoleksi dua poin, sehingga persaingan Grup G menuju babak 32 besar masih terbuka lebar.

Advertisement

Belgia datang ke laga ini dengan tekanan besar setelah sebelumnya hanya bermain imbang 1-1 melawan Mesir. Skuad asuhan Rudi Garcia membutuhkan kemenangan untuk memperbaiki posisi, tetapi justru kembali tersandung karena masalah lama: dominan, banyak menyerang, tetapi kurang efektif di depan gawang.

Tanpa Jeremy Doku yang absen karena sakit, Belgia menurunkan Romelu Lukaku sebagai starter. Ini menjadi penampilan pertama Lukaku sebagai starter untuk klub maupun negara sejak 9 Juni tahun lalu. Kehadirannya diharapkan memberi ketajaman baru, tetapi Iran mampu menutup ruang dengan sangat disiplin.

Sejak awal pertandingan, Belgia lebih banyak menguasai bola. Youri Tielemans, Kevin De Bruyne, Leandro Trossard, dan Maxim De Cuyper berusaha membuka celah melalui umpan silang, cutback, dan tembakan dari luar kotak penalti.

Namun, Iran bertahan rapat dan tidak mudah terpancing keluar. Beiranvand tampil sebagai figur paling penting dengan sejumlah penyelamatan krusial. Ia berulang kali mematahkan peluang Belgia, termasuk saat menggagalkan tembakan De Cuyper dari jarak dekat pada babak kedua.

Peluang terbaik Belgia pada awal laga datang dari tembakan keras Tielemans ke tiang dekat. Namun, Beiranvand sigap menepis bola dan menjaga gawang Iran tetap aman.

Di sisi lain, Iran tidak hanya bertahan. Mereka beberapa kali mengancam lewat situasi bola mati dan lemparan ke dalam jauh. Thibaut Courtois harus bekerja keras mengamankan tembakan memutar Hossein Kanani yang lahir dari situasi bola mati.

Iran bahkan sempat mengira telah unggul pada menit ke-25. Skema tendangan bebas kreatif mereka berhasil membongkar pertahanan Belgia. Ehsan Hajisafi menyodorkan bola pendek kepada Mehdi Taremi yang berada di pagar hidup, lalu Taremi melepaskan tembakan mendatar yang melewati Courtois.

Namun, gol tersebut dianulir setelah Taremi lebih dulu berada dalam posisi offside. Keputusan itu membuat skor tetap 0-0 hingga babak pertama berakhir.

Babak Kedua

Memasuki babak kedua, Iran memasukkan Alireza Jahanbakhsh. Masuknya Jahanbakhsh sekaligus menandai penampilan ke-100 sang pemain bersama tim nasional Iran.

Iran kembali menguji Courtois melalui tembakan voli keras Taremi yang berawal dari skema lemparan ke dalam. Courtois masih mampu membaca arah bola dan menggagalkan peluang tersebut.

Belgia kemudian membalas lewat De Cuyper. Bek sayap itu dua kali mendapat peluang bagus, tetapi Beiranvand tampil luar biasa. Penjaga gawang Iran itu menjatuhkan badan dengan cepat dan melakukan penyelamatan rendah untuk menjaga skor tetap imbang.

Momen paling menentukan terjadi pada menit ke-66. Belgia harus bermain dengan sepuluh pemain setelah Nathan Ngoy menerima kartu merah langsung. Kesalahan Ngoy dalam mengontrol bola dimanfaatkan Taremi. Saat penyerang Iran itu berlari menuju gawang, Ngoy menjatuhkannya dan wasit langsung mengusir bek tengah Belgia tersebut.

Kartu merah itu mengubah arah pertandingan. Belgia yang sebelumnya dominan harus lebih berhati-hati, sementara Iran memiliki keunggulan jumlah pemain. Namun, pasukan Amir Ghalenoei gagal memanfaatkannya menjadi gol.

Iran tetap kesulitan menciptakan peluang bersih meski unggul pemain. Belgia justru masih beberapa kali mencoba menekan pada menit-menit akhir. Namun, penyelesaian akhir mereka tetap bermasalah dan Beiranvand tidak memberi celah.

Hingga peluit panjang berbunyi, skor 0-0 tidak berubah. Iran pulang dengan satu poin penting, sementara Belgia harus kembali menelan frustrasi karena gagal memaksimalkan dominasi permainan.

Alireza Beiranvand Pemain Terbaik

FIFA memilih Alireza Beiranvand sebagai pemain terbaik pertandingan. Keputusan itu tidak mengejutkan karena kiper Iran tersebut menjadi alasan utama Belgia gagal mencetak gol.

Beiranvand juga mendapat pujian karena tampil tenang di bawah tekanan. Ia bukan hanya melakukan penyelamatan, tetapi juga membantu menjaga konsentrasi lini belakang Iran yang terus dibombardir serangan Belgia.

Di sisi Belgia, Courtois juga mencatatkan momen penting. Penjaga gawang Real Madrid itu menyamai rekor legenda Belgia Enzo Scifo dengan 17 penampilan di putaran final Piala Dunia.

Namun, catatan pribadi Courtois tidak cukup menghapus kekecewaan Belgia. Mereka kini baru mencetak satu gol dalam dua laga Grup G, itupun datang dari gol bunuh diri pemain Mesir pada pertandingan pertama.

Pelatih Belgia Rudi Garcia menilai timnya kurang tajam di sepertiga akhir. Menurut dia, Belgia sebenarnya sudah memperkirakan Iran akan bermain rapat dan menunggu di belakang.

"Kami kekurangan efisiensi di lini depan. Saya sudah memprediksi pertandingan akan berjalan seperti ini, dengan penguasaan bola mendekati 70 persen, banyak umpan silang, dan banyak tembakan. Tembakan kami tepat sasaran, tetapi kami kurang menguji kiper lawan. Bermain dengan sepuluh orang jelas tidak membantu. Kami pernah menghadapi laga seperti ini sebelumnya dan biasanya bisa mencetak setidaknya tiga gol. Ini bagian dari awal yang lambat di Piala Dunia. Terkadang, kami terlihat agak ragu-ragu. Kami tahu persis hasil apa yang kami butuhkan saat melawan Selandia Baru nanti." Pelatih Belgia, Rudi Garcia

Romelu Lukaku juga mengakui Belgia harus mengevaluasi kegagalan mereka memanfaatkan peluang. Ia menilai tim terlalu emosional dalam momen penting.

"Kami harus menganalisis apa yang salah karena kami menciptakan begitu banyak peluang tanpa bisa mencetak gol, dan itu sangat frustrasi. Kami bermain dengan terlalu banyak emosi di momen-momen krusial." Penyerang Belgia, Romelu Lukaku

Garcia juga memberi pembelaan kepada Ngoy setelah kartu merah yang membuat Belgia kehilangan momentum. Dalam laporan Reuters, Garcia menyebut kesalahan tersebut bagian dari proses pemain muda.

"Dia masih muda. Dia melakukan kesalahan," kata Garcia.

Dari kubu Iran, Beiranvand menyampaikan apresiasi kepada para pendukung Iran yang hadir di stadion dan terus memberi dukungan sepanjang laga.

"Saya mencium tangan setiap orang Iran yang hadir di stadion hari ini, semuanya. Semua orang Iran yang mendukung kami hari ini. Ada momen ketika semua orang bernyanyi, meneriakkan nama Iran," ujar Beiranvand.

Group G Semakin Rumit

Pelatih Iran Amir Ghalenoei juga memuji komitmen para pemainnya. Menurut dia, Iran menjalani kondisi sulit, tetapi para pemain tetap bertarung dengan hati. "Kondisinya sangat berat bagi kami," kata Ghalenoei. "Mereka bermain dengan hati mereka," ujarnya.

Hasil ini membuat Grup G semakin rumit. Iran berada di puncak klasemen sementara dengan dua poin dari dua laga. Belgia juga memiliki dua poin, tetapi masih belum mampu menunjukkan kualitas ofensif yang diharapkan dari skuad bertabur pemain top.

Selandia Baru dan Mesir masing-masing mengoleksi satu poin dari satu pertandingan. Dengan komposisi tersebut, semua tim di Grup G masih memiliki peluang untuk lolos, tetapi Belgia kini berada dalam tekanan besar menjelang laga terakhir melawan Selandia Baru.

Bagi Belgia, pertandingan melawan Selandia Baru menjadi laga hidup-mati. Kemenangan hampir pasti menjadi syarat untuk mengamankan tiket ke fase gugur. Jika kembali gagal menang, Red Devils berisiko mengulang kekecewaan Piala Dunia 2022, ketika mereka tersingkir sejak fase grup.

Bagi Iran, hasil imbang melawan Belgia menjadi modal penting. Team Melli bukan hanya bertahan, tetapi juga menunjukkan kedewasaan taktik dan mental saat menghadapi salah satu tim Eropa dengan kualitas individu tinggi.

Pertandingan ini sekaligus menegaskan, nama besar saja tidak cukup di Piala Dunia. Belgia punya penguasaan bola, pengalaman, dan materi pemain lebih mentereng. Namun, Iran punya organisasi, kiper yang sedang panas, dan disiplin bertahan yang membuat mereka tetap hidup dalam persaingan Grup G.


Belgia ditahan Iran 0-0 di Grup G Piala Dunia 2026. Alireza Beiranvand tampil gemilang, sementara Nathan Ngoy mendapat kartu merah