Periskop.id - Di era media sosial yang serba cepat ini, urusan mengikuti akun orang lain atau sekadar klik tombol follow sering kali dianggap sebagai perkara sepele yang selesai dalam hitungan detik.
Namun bagi banyak perempuan, melihat pasangannya memiliki hobi mengikuti akun perempuan yang menarik di dunia maya bisa meninggalkan rasa tidak nyaman yang sangat mendalam dan sulit dijelaskan.
Fenomena ini bukan cuma memicu rasa cemburu biasa, bukan juga semata mata karena takut tersaingi oleh visual perempuan lain. Ada perasaan mendalam seperti tidak dihargai, dibandingkan, bahkan seperti sedang dipermalukan secara diam-diam di ruang publik.
Perasaan terluka ini sebenarnya tidak muncul dari ruang kosong tanpa alasan yang jelas. Kehadiran media sosial telah membuat interaksi pasangan kita dengan orang lain menjadi jauh lebih terlihat, mudah dilacak, dan sangat mudah untuk ditafsirkan.
Berdasarkan data yang dirilis oleh Pew Research Center, ditemukan fakta bahwa 23% orang dewasa yang memiliki pasangan aktif bermedia sosial pernah merasa cemburu atau tidak yakin dengan hubungan mereka akibat cara pasangan berinteraksi dengan orang lain di dunia maya.
Angka ini bahkan melonjak hingga 34% pada kelompok usia muda antara 18 sampai 29 tahun.
Rasa Dibandingkan dengan Standar Cantik yang Tidak Realistis
Konten perempuan berpenampilan menarik di media sosial umumnya selalu hadir dalam versi terbaik dan paling rapi karena sudut kamera sudah dipilih sedemikian rupa, pencahayaan diatur sempurna, serta tubuh diposekan agar terlihat semenarik mungkin.
Saat pasangan terus menerus mengonsumsi akun semacam itu, seorang perempuan bisa merasa sedang diadu dengan standar kecantikan yang tidak selalu realistis dalam kehidupan nyata.
Kondisi psikologis ini didukung oleh penelitian Pedalino dan Camerini yang dipublikasikan dalam International Journal of Environmental Research and Public Health pada 2022.
Penelitian tersebut menemukan bahwa aktivitas melihat lihat platform Instagram berkaitan erat dengan penurunan apresiasi terhadap tubuh sendiri pada remaja perempuan dan perempuan muda.
Sejalan dengan hal tersebut, studi Thai dkk. pada 2023 dalam American Psychological Association juga pernah merilis temuan menarik bahwa remaja dan dewasa muda yang bersedia mengurangi penggunaan media sosial hingga 50% selama beberapa minggu mengalami perbaikan yang sangat signifikan dalam cara mereka memandang berat badan dan penampilan fisik mereka.
Temuan ini memperkuat bukti bahwa paparan dunia digital memang berkaitan erat dengan rasa tidak puas terhadap tubuh.
Maka dari itu, saat pasangan hobi mengikuti akun perempuan berpenampilan menarik, luka yang muncul dalam hati perempuan tidak selalu berbunyi ketakutan akan perselingkuhan fisik, melainkan sebuah pertanyaan pelan yang mempertanyakan mengapa pasangan masih mencari visual perempuan lain ketika dirinya sudah hadir secara nyata di sisi kehidupan pasangan.
Aktivitas Medsos Bisa Terasa Seperti Bentuk Ketertarikan
Sebagian besar pria mungkin berdalih bahwa mengikuti sebuah akun hanyalah aktivitas biasa tanpa maksud apa-apa. Namun dalam dinamika hubungan romantis, setiap tindakan kecil di media sosial memiliki bobot emosional yang jauh lebih besar.
Aktivitas digital seperti melakukan follow, memberikan like, menulis komentar, atau sering melihat cerita singkat perempuan lain dapat dengan mudah dibaca sebagai bentuk perhatian khusus.
Masalahnya, perhatian adalah bahasa kasih yang sangat sensitif dalam sebuah komitmen. Ketika perempuan merasa pasangannya lebih mudah memberikan perhatian pada perempuan berpenampilan menarik di layar ponsel daripada kepada dirinya di kehidupan nyata, rasa sakit hati itu akan tumbuh menjadi kekecewaan yang mengakar.
Kaitan antara kecemburuan digital dan keharmonisan hubungan ini dibahas secara mendalam oleh penelitian Kovan yang terbit di Actualidades en Psicología pada 2023.
Sebuah studi ilmiah terhadap 445 orang berusia 18 sampai 31 tahun yang sedang menjalin hubungan romantis menemukan bahwa kecemburuan di media sosial mampu memprediksi tingkat kepuasan hidup secara negatif.
Studi tersebut juga menekankan betapa pentingnya kemampuan komunikasi dalam menjembatani hubungan antara kecemburuan digital dan kepuasan hidup secara menyeluruh.
Dengan kata lain, inti masalahnya bukan hanya terbatas pada siapa saja sosok yang diikuti oleh pasangan, melainkan bagaimana cara pasangan merespons ketika ada rasa tidak aman yang mulai muncul ke permukaan.
Cara Membicarakan Konflik Tanpa Bertengkar
Bagi kamu yang saat ini sedang merasakan sakit hati akibat kebiasaan digital pasangan, sebaiknya jangan memulai percakapan dari sebuah tuduhan yang agresif. Kalimat yang terlalu menyerang atau menyudutkan sering kali akan membuat pria langsung memasang dinding pertahanan diri dan bersikap defensif.
Langkah yang jauh lebih aman dan elegan adalah dengan memulai pembicaraan dari sudut pandang perasaan pribadi kamu sendiri menggunakan metode I-message.
Sebagai contoh, kamu bisa memilih kalimat seperti pernyataan bahwa kamu merasa kurang nyaman ketika melihat pasangan sering mengikuti akun perempuan dengan konten sensual karena hal tersebut membuat kamu merasa kurang dihargai sebagai pasangan.
Pilihan kalimat seperti ini jauh lebih fokus pada penyampaian dampak emosional yang kamu rasakan, bukan langsung menghakimi bahwa pasangan sengaja berniat buruk untuk menyakiti hatimu.
Setelah mengungkapkan perasaan tersebut, berikan pula pasanganmu ruang yang cukup untuk menjelaskan alasannya secara jujur. Namun setelah penjelasan selesai diberikan, langkah selanjutnya yang tidak kalah krusial adalah menyusun kesepakatan batasan digital yang baru bersama pasangan.
Kamu bisa mulai mendiskusikan bersama apakah aktivitas mengikuti akun seperti itu masih bisa ditoleransi, apakah memberikan tanda suka pada foto sensual dianggap melewati batas komitmen, atau apakah menuliskan komentar genit sudah termasuk tindakan tidak menghargai hubungan.
Memiliki batasan digital yang disepakati bersama secara jelas akan menjadi benteng kokoh yang efektif untuk mencegah konflik serupa terulang kembali di masa depan.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar