Periskop.id - Apple, Microsoft, Nintendo, dan Valve serempak menaikkan harga produk mereka di tengah krisis komponen memori global. Lonjakan tersebut dipicu meledaknya permintaan RAM untuk pusat data kecerdasan buatan, yang kini langsung bersaing dengan kebutuhan elektronik konsumen.
Selama bertahun-tahun, konsumen bisa mengandalkan satu tren pasti: harga perangkat elektronik lama akan semakin terjangkau. Tren itu kini berbalik arah secara ekstrem.
"Pada dasarnya, laptop MacBook di meja konsumen saat ini sedang bersaing memperebutkan kepingan DRAM yang sama dengan pusat data yang menggerakkan ChatGPT, dan konsumen sedang kalah," kata analis senior teknologi RSM UK James Bull dalam laporan BBC, Selasa (30/6).
James Bull juga memaparkan, empat raksasa teknologi AS terbesar diproyeksikan menghabiskan ratusan miliar dolar untuk pusat data dan peralatan AI sepanjang 2026. Skala pembelian sebesar itu membuat pabrikan chip lebih memprioritaskan pesanan korporasi besar ketimbang perangkat elektronik konsumen.
Kondisi inilah yang memunculkan fenomena yang disebut banyak pihak sebagai "Ramageddon". Random Access Memory (RAM), komponen yang dulunya murah dan mudah didapat, kini harganya melambung tak terkendali.
Data dari Counterpoint Research merekam eskalasi harga RAM DDR5 32GB untuk PC secara gamblang. Pada kuartal III 2025, komponen tersebut dijual di kisaran US$94. Kuartal berikutnya merangkak ke US$127, lalu meledak 122% ke angka US$282 pada kuartal I 2026.
Kepala Analisis Keuangan firma investasi AJ Bell, Danni Hewson, menguraikan bahwa perlombaan membangun pusat data AI memicu lonjakan permintaan yang sangat cepat. Kondisi tersebut membuat pabrikan chip raksasa seperti TSMC leluasa menaikkan harga karena para pelanggan mereka tengah berebut kapasitas produksi.
Sejak kuartal I 2026, harga chip DRAM dan Nand flash pun terus merangkak naik tanpa tanda akan berhenti.
Dampaknya langsung terasa di dompet konsumen. Microsoft menaikkan harga Xbox Series S/X minimal US$100 atau sekitar Rp1,7 juta, menjadikannya kenaikan ketiga dalam setahun dengan total lonjakan 30%-40% dibanding tahun lalu. Apple mengerek harga MacBook dan iPad hampir 20%, sebuah pengumuman yang sempat mengguncang harga saham perusahaan tersebut. Valve menaikkan harga Steam Deck hingga 40%, sementara PC gaming baru Steam Machine dipatok jauh di atas ekspektasi awal akibat mahalnya komponen. Nintendo pun mengonfirmasi kenaikan harga Switch 2 secara global, yang dijadwalkan mulai berlaku September mendatang.
Krisis ini tidak semata-mata berakar pada AI. James Bull mencatat, badai inflasi dan ketegangan geopolitik turut memperparah keadaan. Perang di Iran dan blokade di Selat Hormuz disinyalir membengkakkan biaya logistik dan operasional pabrikan chip, yang pada akhirnya dibebankan ke harga jual komponen. Sony pun sebelumnya menyoroti tekanan serupa saat menaikkan harga PS5, merujuk pada kondisi ekonomi global yang tidak menentu.
Tinggalkan Komentar
Komentar