Periskop.id - Amazon kini memiliki lebih dari 390 satelit di orbit, jumlah yang dinilai cukup untuk mulai mengoperasikan layanan internet Leo pada akhir 2026. Layanan ini disiapkan sebagai pesaing langsung Starlink milik SpaceX.

Wakil Presiden Amazon Leo Chris Weber mengumumkan hal tersebut melalui unggahan di platform X. Ia menyebut jumlah satelit yang sudah terkirim ke orbit telah memadai untuk menopang layanan berkelanjutan di berbagai kawasan.

"Itu cukup untuk mendukung layanan berkelanjutan di berbagai wilayah," tutur Weber dalam unggahan di platform X, Senin (6/7).

Angka itu bertambah setelah Amazon mengirimkan 29 satelit ke orbit pekan lalu menggunakan roket United Launch Alliance Atlas V. Peluncuran tersebut mendorong total armada Leo melampaui 390 unit.

Amazon pertama kali mengumumkan proyek internet satelitnya pada 2019. Nama "Leo" baru resmi disematkan pada November 2025, sebagaimana dilaporkan Euronews.

Perusahaan menargetkan konstelasi sekitar 3.236 satelit untuk membangun jaringan penuh. Upaya itu terhambat oleh keterbatasan kapasitas roket dan rentetan kemunduran teknis.

Kemunduran paling berat terjadi pada 28 Mei, ketika roket New Glenn milik Blue Origin meledak saat uji coba di darat di Stasiun Angkatan Luar Angkasa Cape Canaveral, Florida. Blue Origin adalah perusahaan antariksa yang didirikan Jeff Bezos, pendiri Amazon.

Leo pun menghadapi persaingan yang berat di industri ini. Starlink milik SpaceX saat ini mengoperasikan lebih dari 10.400 satelit aktif di orbit, jauh melampaui armada Leo.

Posisi Amazon Leo kini berada di urutan ketiga, di bawah Starlink dan OneWeb yang memiliki sekitar 650 satelit.

Amazon telah membuka akses beta Leo bagi pelanggan korporat sejak November lalu. Perusahaan menargetkan peluncuran komersial penuh pada kuartal ketiga tahun ini.