Periskop.id — Ponsel pintar telah berubah menjadi “brankas digital” bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Survei terbaru Kaspersky menemukan, sebanyak 57% responden Indonesia menyimpan dokumen pribadi, mulai dari KTP, paspor, dokumen asuransi, hingga tiket di perangkat mereka.
Temuan tersebut menjadi perhatian karena pada saat bersamaan, 77% responden Indonesia mengandalkan ponsel sebagai perangkat utama untuk mengakses internet. Artinya, perangkat yang digunakan untuk berkomunikasi, bekerja, bertransaksi, dan mengakses layanan digital juga menyimpan data yang berpotensi disalahgunakan ketika ponsel hilang, dicuri, atau diretas.
Secara regional, 72% responden Asia Pasifik menyebut ponsel pintar sebagai perangkat utama untuk terhubung ke internet. Komputer pribadi kini lebih banyak berperan sebagai perangkat pendukung.
Data yang tersimpan juga bukan sekadar foto atau nomor telepon. Sebanyak 65% responden Asia Pasifik menyimpan foto dan video pribadi, 57% menyimpan kontak, 50% menyimpan pesan serta riwayat percakapan, dan 49% menyimpan dokumen identitas maupun asuransi.
Ponsel juga semakin terhubung dengan aktivitas profesional dan finansial. Survei mencatat 47% responden Asia Pasifik menyimpan surat elektronik pekerjaan, 38% menyimpan informasi perbankan, 34% menyimpan kata sandi dan kredensial akun, serta 27% menyimpan riwayat percakapan dengan layanan kecerdasan buatan atau AI.
Data Sensitif Orang Indonesia Lebih Banyak Tersimpan
Dibandingkan dengan rata-rata Asia Pasifik, responden Indonesia cenderung menyimpan lebih banyak kategori informasi penting di ponselnya. Selain dokumen pribadi, sebanyak 57% menyimpan email pekerjaan dan 47% menyimpan kata sandi serta detail login.
Kemudian, 45% responden Indonesia menyimpan catatan dan pengingat, sedangkan 44% menyimpan informasi belanja, termasuk riwayat pembelian dan alamat pengiriman.
“Sekarang ponsel pintar kita berfungsi sebagai asisten lengkap yang menyentuh setiap aspek kehidupan kita. Data yang kita percayakan kepada mereka jauh melampaui foto, nomor telepon, atau pesan teks. Akibatnya, pertanyaan utamanya bukan lagi “apa yang kita simpan,” tetapi “bagaimana kita melindunginya,” sehingga keamanan harus menjadi bagian integral dari perangkat seperti halnya data yang dibawanya,” tutur Anton Kivva, Pakar Keamanan Siber di Kaspersky, Jumat (17/7)
Ketergantungan terhadap perangkat digital semakin relevan dengan besarnya jumlah pengguna internet di Indonesia. Survei APJII 2026 mencatat penetrasi internet telah mencapai 81,72% atau sekitar 235,26 juta pengguna. Survei tersebut dilakukan pada 1 Februari hingga 15 Maret 2026 terhadap 8.700 responden berusia minimal 13 tahun di 38 provinsi.
Ancaman terhadap Ponsel Terus Meningkat
Besarnya volume data yang tersimpan membuat ponsel menjadi sasaran menarik bagi pelaku kejahatan siber. Laporan Kaspersky sebelumnya menunjukkan serangan terhadap pengguna Android pada semester pertama 2025 meningkat 29% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan melonjak 48% dibandingkan semester kedua 2024.
Pada periode tersebut, ancaman yang ditemukan antara lain aplikasi penipuan berkedok penghasil uang, trojan perbankan, aplikasi VPN palsu yang mencuri kode masuk, serta malware yang telah tertanam pada perangkat. Jumlah trojan mobile banking yang terdeteksi juga hampir empat kali lebih banyak dibandingkan semester pertama 2024. Temuan mengenai peningkatan ancaman terhadap pengguna ponsel turut diberitakan sejumlah media massa.
Risiko pencurian informasi pribadi juga menjadi perhatian pemerintah. Kementerian Komunikasi dan Digital menyebut terdapat sekitar tiga juta insiden kebocoran data di Indonesia sepanjang 2023. Sebanyak 62% di antaranya berkaitan dengan pencurian informasi pribadi.
“Kita tidak bisa membiarkan potensi ekonomi digital bernilai ratusan triliun rupiah terancam oleh kerugian miliaran akibat kebocoran data. Pelindungan data pribadi adalah tanggung jawab bersama,” kata Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria.
Jangan Jadikan Ponsel Satu-satunya Penyimpanan
Kaspersky menyarankan pengguna tidak menyimpan satu-satunya salinan dokumen penting di ponsel. Dokumen identitas, informasi finansial, dan kredensial akun sebaiknya memiliki cadangan serta disimpan menggunakan perlindungan tambahan, seperti brankas terenkripsi atau pengelola kata sandi.
Pengguna juga disarankan mengaktifkan pencadangan otomatis, fitur pelacakan perangkat, penghapusan data dari jarak jauh, dan penguncian layar otomatis. Sistem operasi dan aplikasi perlu diperbarui secara rutin untuk menutup celah keamanan yang telah diketahui.
Aplikasi sebaiknya hanya diunduh melalui toko resmi. Pengguna tetap harus memeriksa nama pengembang, ulasan, dan izin yang diminta aplikasi karena malware juga dapat menyusup ke platform distribusi resmi.
“Hubungan kita dengan ponsel pintar telah berubah secara fundamental. Alih-alih sebagai perangkat komunikasi, ponsel telah menjadi tempat kita mengelola keuangan, pekerjaan, kenangan, dan semakin beralih ke asisten bertenaga AI untuk tugas sehari-hari," ucap kata Adrian Hia, Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky.
Menurutnya, karena semakin banyak aspek kehidupan kita yang menyatu pada satu perangkat, dampak kehilangan akses ke perangkat tersebut atau perangkat tersebut diretas juga meningkat. Bisa dibilang, keamanan siber seluler saat ini bukan lagi hanya tentang melindungi ponsel. "Ini juga tentang melindungi kehidupan digital yang kita bawa di saku kita setiap hari," serunya.
Sekadar informasi, Kaspersky menyebut surveinya mencakup responden di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Namun, jumlah responden dan periode pengumpulan data tidak dicantumkan dalam materi survei yang diterima redaksi.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar