periskop.id - Implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini memasuki babak baru evaluasi publik. Indikator Politik Indonesia merilis hasil survei terkait kepercayaan masyarakat terhadap program MBG. Survei ini melibatkan 1.220 responden Warga Negara Indonesia (WNI) pada kurun waktu 15—21 Januari 2026, terungkap potret besar penerimaan masyarakat terhadap kebijakan ini. Menggunakan metode wawancara tatap muka dengan tingkat kepercayaan 95% dan margin of error sekitar 2,9%, riset ini menunjukkan bahwa program andalan Presiden Prabowo Subianto mempunyai dampak yang mulai dirasakan nyata oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia.
80,7% Gen Z Merasa Puas dengan Program MBG
Hasil survei memperlihatkan gambaran yang cukup optimistis. Secara keseluruhan, tingkat kepuasan masyarakat mencapai 72,8%. Angka ini terbentuk dari 12,2% responden yang mengaku sangat puas, ditambah 60,6% yang merasa cukup puas terhadap program yang dijalankan.
Dukungan terkuat justru datang dari generasi muda. Kelompok Gen Z mencatat tingkat kepuasan paling tinggi, menembus angka 80,7%. Temuan ini menegaskan bahwa program pemenuhan gizi dinilai tepat sasaran dan relevan bagi pelajar serta kalangan muda yang menjadi salah satu fokus utamanya.
Meski demikian, tingkat kepuasan tidak sepenuhnya merata di semua wilayah. Masyarakat di daerah pedesaan cenderung memberikan respon sangat positif, sementara warga Jakarta tampil sebagai kelompok paling kritis. Di ibu kota, hanya 52% responden yang merasa puas, sedangkan 47,6% lainnya menyatakan ketidakpuasan. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa warga perkotaan memiliki ekspektasi lebih tinggi, terutama terkait kualitas, variasi menu, dan standar layanan, dibandingkan masyarakat di wilayah lain.
Korelasi Kepuasan Program dengan Kinerja Presiden
Kepuasan publik terhadap program MBG ternyata berimbas langsung pada citra pemimpin negara. Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, mengungkapkan bahwa keberhasilan program ini memiliki kaitan erat dengan penilaian masyarakat terhadap kinerja Presiden Prabowo secara keseluruhan. Data menunjukkan, sekitar seperempat responden yang merasa tidak puas dengan pelaksanaan MBG juga cenderung memberikan penilaian negatif terhadap kinerja presiden.
Namun, survei ini juga memunculkan temuan yang menarik. Tidak sedikit masyarakat yang tetap menilai kepemimpinan Presiden Prabowo secara positif, meski mereka mengkritik pelaksanaan program makan gratis di lapangan. Fenomena ini mengindikasikan bahwa publik masih bersikap moderat dan memberi kesempatan kepada pemerintah untuk memperbaiki aspek teknis serta tata kelola program, sebelum akhirnya menentukan sikap politik yang lebih tegas.
Tantangan Kualitas dan Peran Badan Gizi Nasional
Tingginya angka kepuasan publik saat ini pada akhirnya bergantung pada kinerja Badan Gizi Nasional (BGN). Masyarakat memberi perhatian serius pada dua hal utama, yaitu kualitas makanan dan keamanan pangan. Munculnya isu negatif, seperti kasus dugaan keracunan makanan di beberapa lokasi, menjadi peringatan penting bagi pemerintah. Jika aspek kualitas ini diabaikan, tingkat kepuasan yang kini berada di angka 72,8% bisa turun kapan saja.
Oleh karena itu, BGN diharapkan mampu menekan berbagai kendala teknis di lapangan dan memastikan standar gizi diterapkan secara konsisten di seluruh Indonesia. Perbaikan kualitas layanan, khususnya di wilayah-wilayah yang paling kritis seperti Jakarta, akan menjadi faktor penentu dalam menjaga kepercayaan publik dan memastikan program ini tetap mendapat dukungan dalam jangka panjang.
Tinggalkan Komentar
Komentar