periskop.id - Lini masa platform X (Twitter) pecah oleh perseteruan digital antara netizen Korea Selatan (Knetz) dengan warganet Asia Tenggara pada Rabu (11/2). Konflik yang bermula dari pelanggaran aturan di sebuah konser musik ini dengan cepat bereskalasi menjadi isu rasisme lintas negara. Tidak tinggal diam, netizen Indonesia bersama rekan-rekan dari Malaysia, Tailan, hingga Filipina bersatu di bawah label SEABlings untuk membalas ejekan yang merendahkan harga diri kawasan. Inilah kronologi lengkap perang komentar yang tengah merajai trending topic hari ini.

Bermula dari Lensa Kamera di Konser Day6 Malaysia

Akar permasalahan drama ini bermula dari sebuah konser band asal Korea Selatan, Day6, yang digelar di Malaysia pada akhir Januari 2026 lalu. Dalam acara tersebut, seorang fansite (penggemar fanatik yang membawa peralatan kamera profesional) asal Korea tertangkap basah membawa kamera lensa tele besar ke dalam venue.

Padahal, pihak promotor sudah melarang keras penggunaan kamera profesional demi kenyamanan penonton lain. Aksi fansite ini pun diviralkan oleh penggemar lokal Malaysia karena dianggap sangat mengganggu pandangan. Alih-alih meminta maaf karena melanggar aturan, oknum fansite tersebut justru mengamuk di media sosial dan mengancam netizen Malaysia dengan jalur hukum.

"Perkara awalnya tuh krn pas konser DAY6 di KL, si fansite bawa kamera pro & lensa tele pdhl barang yg dilarang sama promotor konser. Ke foto sama penonton MY. Fansitenya ngamuk, ngancem pake UU ITE. Sempet war kecil, tp akhirnya dia ngetwit minta maaf," tulis akun X @kcharenina. Meski oknum tersebut akhirnya meminta maaf, api terlanjur menyulut sumbu yang lebih besar.

Hina Video Klip No Na dan Status Ekonomi, Knetz Picu Amarah Netizen

Setelah urusan konser mereda, situasi justru memburuk ketika beberapa oknum Knetz mulai membawa sentimen rasisme ke permukaan. Mereka mulai melontarkan cuitan yang menghina status ekonomi negara-negara di Asia Tenggara secara umum. Sindiran ini memicu netizen Indonesia untuk turun tangan membela tetangga serumpun mereka, Malaysia.

Konflik semakin memuncak saat Knetz mulai menyerang karya seni lokal. Grup vokal asal Indonesia, No Na, menjadi sasaran perundungan digital. Knetz mengejek video klip lagu No Na yang mengambil latar di tengah sawah. Salah satu akun Knetz menulis dengan nada merendahkan, “Saya tidak punya uang jadi saya tidak bisa menyewa peralatan. Saya mengambil foto ini di ladang. Apakah Anda sedang dalam perjalanan menanam bibit padi?”

Ejekan yang membawa-bawa kemiskinan dan olokan terhadap kehidupan di desa ini dianggap sudah melewati batas. Netizen Indonesia pun langsung bereaksi. Namun, kali ini mereka tidak berjuang sendirian di garda terdepan.

Lahirnya SEABlings: Saat Netizen ASEAN Bersatu

Di sinilah plot twist menarik terjadi. Melihat Indonesia dan Malaysia diserang dengan narasi rasis, netizen dari Tailan dan Filipina ikut bergabung dalam medan perang digital tersebut. Mereka secara kolektif menggunakan istilah SEABlings sebagai simbol ikatan persaudaraan warga Asia Tenggara. Tagar ini pun segera merajai trending topic.

Balasan-balasan menohok pun bertebaran. Menanggapi ejekan Knetz soal sawah, seorang netizen Malaysia membalas dengan tajam, "Ingat sikit eh ko makan nasi pun sampai kerak-kerak rendam air tau," menyindir kebiasaan mengonsumsi nasi yang juga merupakan makanan pokok di Korea. Tak mau kalah, warganet Indonesia menyentil kemampuan bahasa Inggris Knetz yang dianggap rendah meski berasal dari negara maju. "Negara maju tapi penduduknya mostly bobrok Inggrisnya," tulis salah satu warganet.

Solidaritas ini menunjukkan bahwa narasi rasisme terhadap satu negara di Asia Tenggara akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh kawasan. SEABlings membuktikan bahwa meski sering terlibat dalam rivalitas dalam sepak bola atau kuliner, warga ASEAN akan bersatu padu jika ada pihak luar yang merendahkan harga diri regional mereka.