Periskop.id - Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengumumkan peluncuran gelombang ke-18 dari operasi militer yang mereka sebut sebagai “True Promise 4” pada Rabu (4/3/2026). 

Kampanye militer ini disebut sebagai respons langsung terhadap apa yang disebut Iran sebagai agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran.

Dalam pernyataan singkatnya, sebagaimana dilaporkan oleh Ilkha), IRGC mengonfirmasi dimulainya fase terbaru dari operasi tersebut.

“Gelombang ke-18 Operasi True Promise 4 telah dimulai dengan sandi operasi ‘O Hassan ibn Ali (damai atasnya)’,” jelas pihak IRGC.

Pernyataan itu tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai target serangan maupun lokasi spesifik operasi militer yang dilancarkan.

Respons Iran atas Serangan AS dan Israel

Menurut sumber-sumber di Iran, eskalasi terbaru ini terjadi setelah serangan militer yang dilaporkan dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu pagi terhadap wilayah Iran.

Serangan tersebut disebut menyebabkan korban sipil dalam jumlah signifikan serta kerusakan pada sejumlah infrastruktur penting. Namun hingga saat ini, angka pasti korban jiwa belum dapat diverifikasi secara independen oleh pihak luar.

Sebagai respons terhadap serangan tersebut, pemerintah Iran meluncurkan Operasi True Promise 4, yang diklaim menargetkan posisi Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di berbagai wilayah kawasan Timur Tengah.

Para pejabat Iran menggambarkan operasi ini sebagai langkah defensif yang bertujuan untuk mencegah serangan lanjutan serta menegaskan hak Iran untuk membela diri sesuai dengan prinsip hukum internasional.

Gelombang serangan terbaru ini menandai eskalasi lanjutan dalam ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran komunitas internasional terhadap potensi konflik regional yang lebih luas.

Asal-Usul Nama “True Promise”

Istilah true promise (al-waʿd al-ṣādiq) atau yang dalam bahasa Indonesia adalah janji sejati memiliki makna ideologis dan teologis yang penting dalam narasi politik Iran.

Melansir Homeland Security, istilah ini merujuk pada konsep “janji sejati” dari Tuhan yang berkaitan dengan keyakinan akan kembalinya Imam al-Mahdi dalam tradisi Syiah Dua Belas Imam.

Dalam kerangka pemikiran ini, setiap operasi militer yang dilancarkan Iran dapat diposisikan sebagai bagian dari Intizar, yaitu ritual spiritual yang berkaitan dengan penantian kemunculan Imam al-Mahdi.

Konsep ini memandang konflik dunia modern sebagai bagian dari perjalanan spiritual dan historis yang lebih luas, yang menghubungkan dunia fana dengan dimensi ilahi.

Sayyid Muhammad Taqi al-Isfahani menulis dalam karyanya Mikyal al-Makarim mengenai makna “Janji Sejati” tersebut.

“Itu adalah janji sejati Tuhan yang tidak akan pernah dilanggar—kabar gembira dari Nabi dan para Imam suci, dan sesuatu yang pasti akan terjadi,” tulisnya.

Dalam konteks ini, operasi militer seperti True Promise 4 tidak hanya dilihat sebagai tindakan strategis, tetapi juga sebagai bagian dari narasi teologis yang telah hidup selama lebih dari seribu tahun dalam sejarah Syiah.

Teologi Politik dan Peran Wali al-Faqih

Kerangka ideologis di balik operasi semacam ini juga berkaitan erat dengan konsep teologi politik yang berkembang di Iran.

Elite penguasa Iran banyak dipengaruhi oleh teologi Irfani, sebuah kerangka mistik dalam tradisi Syiah yang menekankan hubungan antara pengetahuan spiritual, otoritas ilahi, dan kepemimpinan religius.

Dalam sistem ini, ketaatan kepada Wali al-Faqih atau Pemimpin Tertinggi Iran dipandang sebagai bentuk keselarasan dengan tatanan ilahi.

Konsep tersebut mulai dipertegas sejak Revolusi Iran tahun 1979, ketika Ayatollah Ruhollah Khomeini memperkenalkan doktrin wilayat al-faqih al-mutlaqa atau kewalian absolut seorang ahli hukum Islam.

Doktrin ini menempatkan pemimpin religius pada posisi otoritas tertinggi dalam sistem pemerintahan Iran.

Teori ini juga berkaitan dengan konsep Insan Kamil atau manusia sempurna, yang memandang pemimpin spiritual sebagai manifestasi kehendak Tuhan di dunia.

Prinsip teologis wasāṭa fi al-fayḍ kemudian menggambarkan Pemimpin Tertinggi sebagai perantara pengetahuan ilahi.

Melalui kerangka tersebut, pesan ideologis yang disampaikan oleh pemimpin religius memperoleh legitimasi spiritual yang kuat di mata para pengikutnya.

Akibatnya, tindakan yang dilakukan atas dasar ketaatan kepada pemimpin dianggap sebagai bagian dari pelaksanaan kehendak Tuhan.

Eskatologi Syiah dan Narasi Perjuangan

Dalam tradisi Syiah, eskatologi atau pandangan mengenai akhir zaman memiliki peran penting dalam membentuk cara pandang terhadap konflik.

Eskatologi ini menyatukan masa lalu dan masa kini dalam satu rangkaian narasi sejarah yang panjang.

Para pengikut sering memandang diri mereka sebagai penerus pengorbanan Husayn bin Ali dalam peristiwa Karbala.

Dalam kerangka tersebut, para pejuang dapat dipandang sebagai “Killing Vessels”, yaitu individu yang secara spiritual diyakini menjalankan mandat ilahi.

Kematian di medan perang, kehilangan pemimpin, atau kekalahan militer tidak dianggap sebagai akhir perjuangan. Semua peristiwa tersebut dimaknai sebagai bagian dari perjalanan spiritual yang berkelanjutan.

Narasi semacam ini juga memungkinkan mobilisasi ideologis yang kuat di berbagai komunitas Syiah di kawasan Timur Tengah.

Dalam beberapa analisis keamanan, narasi kematian simbolis tokoh penting seperti Ali Khamenei bahkan dapat digunakan untuk menggerakkan jaringan yang lebih luas di Irak, Lebanon, hingga Bahrain.

Konsep ini juga memungkinkan operasi militer yang lebih terdesentralisasi, karena para pengikut diyakini tidak selalu membutuhkan komando langsung untuk bertindak.

Implikasi Strategis di Timur Tengah

Dengan menggabungkan teknologi militer modern seperti rudal presisi dengan simbolisme religius dan narasi eskatologis, Iran membentuk strategi yang unik dalam konflik geopolitik modern.

Operasi seperti True Promise 4 bukan hanya sekadar operasi militer konvensional. Operasi ini juga dipahami sebagai manifestasi simbolik dari narasi teologis dan sejarah panjang dalam tradisi Syiah.

Pendekatan tersebut membuat konflik di kawasan Timur Tengah tidak hanya dipandang sebagai persaingan geopolitik, tetapi juga sebagai pertarungan ideologis yang memiliki dimensi spiritual.

Eskalasi terbaru ini memperlihatkan bahwa ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat masih berpotensi berkembang menjadi konflik yang lebih luas, dengan dampak signifikan terhadap stabilitas kawasan.