Periskop.id - Kabar duka sekaligus peringatan keras datang dari fasilitas pembuangan akhir utama ibu kota. Peristiwa longsor sampah di TPST Bantargebang dilaporkan terjadi pada Minggu (8/3), dalam rentang waktu pukul 14.30 hingga 15.30 WIB.
Insiden ini menjadi sorotan tajam mengingat beban kapasitas tempat penampungan tersebut yang kian mengkhawatirkan dari tahun ke tahun.
Kronologi dan Dampak Kerusakan
Titik longsor utama teridentifikasi berada di Zona 4 (4A). Longsoran material sampah yang masif ini menimbun sedikitnya lima unit truk sampah yang sedang beroperasi serta merusak satu bangunan warung di sekitar lokasi.
Berdasarkan analisis awal, penyebab utama bencana ini diduga kuat akibat hujan ekstrem dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Bekasi dan sekitarnya sejak hari Sabtu.
Kondisi cuaca tersebut membuat struktur gunungan sampah menjadi jenuh air dan kehilangan stabilitasnya sehingga berujung pada guguran material yang fatal.
Namun, insiden ini sebenarnya merupakan akumulasi dari beban operasional yang terus meningkat selama bertahun-tahun.
Untuk memahami seberapa besar tekanan yang dihadapi fasilitas ini setiap harinya, mari kita bedah gambaran statistik operasional yang mencatat lonjakan volume sampah dari waktu ke waktu.
Profil dan Kapasitas TPST Bantargebang
TPST Bantargebang merupakan aset milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang berlokasi di tiga kelurahan sekaligus, yaitu Kelurahan Ciketing Udik, Kelurahan Cikiwul, dan Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi.
Fasilitas ini memiliki total luas area mencapai 110,3 Hektare. Dari luas tersebut, sebanyak 74,26% atau sekitar 81,91 hektare digunakan sebagai luas efektif penampungan, sementara 25,74% sisanya dialokasikan untuk prasarana pendukung seperti jalan masuk, kantor, serta Instalasi Pengolahan Lindi.
Lahan urug saniter atau penampungan di tempat ini dibagi ke dalam lima zona dengan rincian luas sebagai berikut:
| Zona | Luas Lahan (Hektare) |
|---|---|
| Zona I | 18,3 |
| Zona II | 17,7 |
| Zona III | 25,41 |
| Zona IV (Lokasi Kejadian) | 11,0 |
| Zona V | 9,5 |
| Total Luas Efektif | 81,91 |
Analisis Beban Sampah dan Tren Kendaraan
Beban TPST Bantargebang terus menunjukkan tren kenaikan yang signifikan. Pada tahun 2011, rata-rata berat sampah per hari berada di angka 5.172,84 ton.
Angka ini melonjak tajam menjadi 6.561,99 ton pada 2016, dan terus merangkak naik hingga menyentuh 7.702,07 ton per hari pada tahun 2019. Adapun data rincinya, yakni sebagai berikut:
| Tahun | Rata-Rata Berat Sampah (Ton/Hari) |
|---|---|
| 2011 | 5.172,84 |
| 2012 | 5.263,63 |
| 2013 | 5.651,44 |
| 2014 | 5.664,88 |
| 2015 | 6.419,14 |
| 2016 | 6.561,99 |
| 2017 | 6.875,49 |
| 2018 | 7.452,60 |
| 2019 | 7.702,07 |
Sejalan dengan volume sampah, rata-rata kendaraan yang masuk juga mengalami peningkatan ritase harian dari tahun ke tahun. Berikut adalah datanya:
| Tahun | Rata-rata Kendaraan (Rit/Hari) |
|---|---|
| 2011 | 673 |
| 2012 | 745 |
| 2013 | 778 |
| 2014 | 836 |
| 2015 | 961 |
| 2016 | 1.058 |
| 2017 | 1.213 |
| 2018 | 1.281 |
| 2019 | 1.331 |
Untuk mengelola gunungan sampah yang terus bertambah ini, pihak pengelola menyiagakan total 108 unit alat berat pendukung yang terdiri dari 63 unit Excavator Standar, 4 unit Excavator Long Arm, 26 unit Bulldozer, 10 unit Wheel Loader, serta 5 unit Refuse Compactor.
Komposisi Sampah: Tantangan Pengelolaan Masa Depan
Berdasarkan data komposisi sampah, sisa makanan menjadi penyumbang terbesar dengan persentase mencapai 43%. Hal ini diikuti oleh plastik sebesar 28%, kain 8%, kertas 5%, serta kayu dan rumput 4%.
Komponen lainnya mencakup PET 3%, sampah B3 3%, karet atau kulit 2%, dan kategori lainnya 3%.
Dominasi sampah organik yang tinggi menjadi salah satu faktor kerentanan gunungan sampah terhadap air hujan karena proses dekomposisinya yang dapat melunakkan struktur tumpukan.
Insiden longsor ini menjadi pengingat bagi warga Jakarta akan pentingnya pengurangan sampah dari hulu guna mencegah beban berlebih di masa mendatang.
Tinggalkan Komentar
Komentar