Periskop.id - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah Iran secara efektif memblokade Selat Hormuz sebagai respons atas rentetan serangan militer dari Amerika Serikat dan Israel. 

Hingga akhir Maret 2026, ratusan kapal tanker minyak dilaporkan menganggur di kedua sisi selat, memicu lonjakan harga minyak yang mengguncang stabilitas ekonomi global.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah berjanji untuk membuka kembali jalur pelayaran vital tersebut dengan segala cara. 

Namun, para ahli strategi militer dan keamanan internasional memperingatkan bahwa memulihkan lalu lintas di selat tersebut tanpa kesepakatan diplomatik atau pendudukan militer yang berisiko tinggi adalah misi yang hampir mustahil.

Geografi sebagai Senjata Strategis

Kondisi geografis Selat Hormuz yang sempit dan dangkal menjadi tantangan utama bagi kapal kapal tanker berukuran besar. 

Jalur navigasi ini memaksa kapal untuk berlayar sangat dekat dengan pesisir Iran yang bergunung-gunung, sebuah bentang alam yang sangat menguntungkan taktik perang asimetris Iran.

Caitlin Talmadge, profesor dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang meneliti keamanan Teluk, menjelaskan kepada The New York Times pada Selasa (24/3).

“Orang Iran telah lama memikirkan bagaimana memanfaatkan geografi untuk keuntungan mereka,” jelasnya.

Iran menggunakan senjata berukuran kecil yang tersebar luas dan sulit dihancurkan, seperti baterai rudal dan drone, yang disembunyikan di dalam tebing, gua, serta terowongan bawah tanah. 

Jennifer Parker, mantan perwira angkatan laut dari National Security College, Australian National University, menambahkan bahwa lebar selat yang terbatas membuat waktu reaksi kapal yang diserang menjadi sangat tipis.

“Untuk merespons dan mencoba menghancurkan rudal atau drone, waktu reaksi Anda, tergantung kecepatannya, bisa hanya beberapa menit,” ujar Parker.

Kekuatan Tersembunyi dan Operasi Militer Besar

Meskipun Presiden Trump sempat melontarkan kemungkinan pengelolaan selat bersama pemimpin tertinggi Iran, opsi militer tetap menjadi pertimbangan utama Gedung Putih. 

Sejak konflik memanas pada akhir Februari 2026, setidaknya 17 kapal telah terkena serangan menurut data dari perusahaan maritim Kpler. Hingga saat ini, ribuan serangan udara AS dan Israel ke lokasi militer Iran belum mampu melumpuhkan ancaman tersebut secara total. 

Mark F. Cancian, penasihat senior di Center for Strategic and International Studies (CSIS), menekankan sulitnya menargetkan senjata Iran yang bersifat mobile atau berpindah-pindah.

Rencana Trump untuk melakukan pengawalan militer (escort) bagi tanker komersial juga dinilai sebagai operasi yang sangat masif. Operasi ini membutuhkan kapal perusak, penyapu ranjau, dukungan udara untuk mencegat drone, hingga serangan darat ke posisi baterai rudal. 

Namun, Eugene Gholz dari University of Notre Dame memperingatkan bahwa setiap bagian kapal perusak sebenarnya rentan terhadap serangan dalam pertempuran jarak dekat di selat tersebut.

Tantangan paling ditakuti oleh angkatan laut dunia bukanlah rudal, melainkan ranjau laut. Jonathan Schroden, pakar perang tidak konvensional di CNA, menyatakan bahwa ancaman ranjau yang kredibel akan mengubah seluruh dinamika pertempuran.

“Tidak ada angkatan laut yang mau menempatkan kapal utamanya di perairan yang mungkin atau sudah dipasangi ranjau,” kata Schroden. 

Operasi pembersihan ranjau laut membutuhkan waktu berminggu minggu dan menempatkan personel militer dalam risiko tinggi karena tim pembersih yang bergerak lambat sangat rentan terhadap serangan lawan.

Laporan intelijen menyebutkan bahwa pasukan Marinir AS mulai dikerahkan ke wilayah tersebut. Pentagon kemungkinan akan menggunakan mereka untuk operasi darat terbatas, seperti menguasai pulau pulau di sekitar selat guna memasang sistem pertahanan udara.

Namun, menguasai daratan utama Iran dianggap sebagai langkah yang terlalu berbahaya. Risiko jatuhnya korban jiwa di pihak Amerika Serikat atau adanya tentara yang ditangkap dapat mengubah peta politik dalam negeri Paman Sam secara drastis. Parker memperingatkan bahwa hilangnya nyawa pasukan darat akan menjadi titik balik yang dihindari oleh pemerintahan Trump.

Batas Keberhasilan dan Kepercayaan Pasar

Keberhasilan operasi militer tidak hanya diukur dari terbukanya jalur, tetapi dari kembalinya kepercayaan pasar asuransi dan pemilik kapal. Saat ini, hampir 500 tanker di Teluk Persia tetap bergeming menurut data S&P Global Market Intelligence.

Sebelum perang pecah, sekitar 80 tanker minyak dan gas melintasi Selat Hormuz setiap hari. Dengan sistem pengawalan militer, jumlah kapal yang bisa dilindungi dalam satu waktu sangat terbatas. 

Kevin Rowlands dari Royal United Services Institute menegaskan bahwa kuncinya adalah meyakinkan perusahaan pelayaran bahwa risiko telah turun cukup rendah untuk layak melintas.

Pada akhirnya, para ahli sepakat bahwa kekuatan militer mungkin bisa meredam ancaman sementara, namun tidak akan bisa mengembalikan stabilitas total. 

Talmadge menyimpulkan bahwa selama ancaman Iran masih ada, lalu lintas akan tetap terdampak secara signifikan. Satu satunya jalan keluar untuk normalisasi penuh adalah melalui solusi diplomatik dan politik yang komprehensif.