iklan periskop
Artikel

47% Anak Muda Indonesia Kena Tekanan Mental Akibat FoMO, Padahal Ekonomi Cukup

Survei Muda Bicara ID Q1 2026 ungkap 47% anak muda alami tekanan mental FoMO meski ekonomi stabil.

3 bulan yang lalu · 3 mnt baca
47% Anak Muda Indonesia Kena Tekanan Mental Akibat FoMO, Padahal Ekonomi Cukup
Survei Muda Bicara ID Q1 2026 ungkap 47% anak muda alami tekanan mental FoMO meski ekonomi stabil. Ilustrasi dihasilkan oleh AI.
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Survei Nasional yang dirilis oleh Muda Bicara ID pada Kuartal I 2026 mengungkap gambaran kontras mengenai kondisi generasi muda Indonesia. 

Di satu sisi, sebagian besar anak muda merasa kondisi keuangan mereka cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Namun di sisi lain, tekanan psikologis justru menjadi persoalan yang tidak kalah besar.

Survei ini dilakukan pada periode 1 hingga 30 Maret 2026 dengan melibatkan 800 responden dari berbagai latar belakang. Hasilnya menunjukkan bahwa kesejahteraan ekonomi tidak selalu berbanding lurus dengan kesehatan mental, terutama di era digital yang sarat tekanan sosial.

Mayoritas Merasa Pendapatan Cukup, Tapi Kerentanan Masih Ada

Dari sisi ekonomi, sebanyak 59,86% responden menyatakan bahwa pendapatan utama atau uang saku bulanan mereka tergolong cukup untuk membiayai kebutuhan hidup dasar. Temuan ini menunjukkan bahwa mayoritas generasi muda merasa mampu memenuhi kebutuhan pokok seperti makanan, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari lainnya.

Namun, di balik angka tersebut, terdapat 40,14 persen responden yang merasa pendapatannya tidak cukup. Angka ini menunjukkan bahwa hampir separuh generasi muda masih berada dalam kondisi rentan secara finansial.

Kondisi ini menjadi sinyal peringatan terkait stabilitas ekonomi anak muda, terutama di tengah meningkatnya biaya hidup dan tekanan ekonomi pada awal 2026. Perbedaan persepsi ini juga mengindikasikan adanya kesenjangan pengalaman ekonomi di antara generasi muda, di mana sebagian kelompok mulai mencapai stabilitas, sementara kelompok lainnya masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar.

Tekanan Mental Tinggi Akibat Standar Sosial Digital

Selain kondisi ekonomi, survei ini juga menyoroti aspek kesehatan mental yang menunjukkan tren mengkhawatirkan. Sebanyak 47,26% responden mengaku sering merasakan kecemasan, tekanan mental, atau fenomena fear of missing out (FoMO) saat tidak mengikuti tren gaya hidup yang sedang populer di media sosial.

Tekanan tersebut berkaitan dengan berbagai aspek gaya hidup, mulai dari kepemilikan barang bermerek, penggunaan pakaian terbaru, hingga mengikuti tren liburan yang sedang viral. Standar sosial yang terbentuk di ruang digital ini menciptakan ekspektasi yang tinggi, yang tidak selalu dapat dipenuhi oleh semua individu.

Di sisi lain, sebanyak 52,74% responden menyatakan tidak merasakan tekanan tersebut. Meski demikian, hampir separuh responden yang mengaku terdampak menunjukkan bahwa tekanan sosial digital telah menjadi fenomena nyata yang memengaruhi kesehatan mental generasi muda.

Paradoks Generasi Muda di Era Digital

Hasil survei ini menggambarkan sebuah paradoks yang dihadapi generasi muda Indonesia saat ini. Secara ekonomi, mayoritas merasa cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Namun secara psikologis, tekanan sosial yang dipicu oleh media digital justru menciptakan beban mental yang signifikan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tantangan generasi muda tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi, tetapi juga dengan dinamika sosial dan budaya digital. Paparan terhadap standar gaya hidup yang tinggi di media sosial dapat memicu perasaan tidak cukup, meskipun secara objektif kondisi ekonomi sudah relatif stabil.

Temuan ini menjadi penting bagi perumusan kebijakan publik ke depan. Pemerintah tidak hanya dituntut untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi generasi muda, tetapi juga perlu memperhatikan aspek kesehatan mental serta literasi digital.

Upaya peningkatan literasi digital dapat membantu generasi muda memahami dan menyaring informasi serta standar sosial yang berkembang di media sosial. Selain itu, pendekatan yang lebih komprehensif terhadap kesehatan mental juga diperlukan untuk memastikan bahwa generasi muda dapat menghadapi tekanan sosial dengan lebih baik.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Anak Muda, dan Anak Muda Takut Kemiskinan dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.