Periskop.id - Pergerakan harga minyak mentah dunia belakangan ini sedang mengalami tren penurunan hingga menyentuh level US$70 per barel. Namun, situasi tersebut rupanya belum membawa perubahan pada harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di dalam negeri, khususnya jenis Pertamax.
Fenomena ini tentu melahirkan tanda tanya besar di tengah masyarakat mengenai alasan kuat di balik keputusan badan usaha milik negara tersebut untuk tetap mempertahankan harga di tengah merosotnya pasar minyak global.
Sebagai informasi, saat ini harga jual Pertamax di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) masih bertengger di angka Rp16.250 per liter. Nominal tersebut diketahui telah bertahan stabil selama kurang lebih satu bulan terakhir.
Keputusan untuk menahan harga ini memicu diskusi hangat mengenai kapan penyesuaian harga ke tingkat yang lebih rendah akan benar-benar direalisasikan oleh pihak berwenang.
Mengenal Strategi Price Smoothing
Kebijakan yang diambil oleh Pertamina saat ini dapat diidentifikasi sebagai bentuk strategi penghalusan harga atau yang populer dikenal dengan istilah price smoothing. Melalui pendekatan bisnis ini, perusahaan pelat merah tersebut sebenarnya menerapkan sistem subsidi silang internal terhadap lini waktu keuntungan mereka sendiri.
Pertamina diketahui sempat menahan agar harga Pertamax tidak melonjak terlalu ekstrem ketika harga minyak dunia sedang melambung tinggi beberapa waktu yang lalu.
Kini, di saat harga minyak dunia berbalik turun, perusahaan memilih untuk menunda penyesuaian harga ke bawah demi memulihkan margin keuntungan mereka. Langkah ini diambil karena Pertamina telah menyerap kerugian yang cukup signifikan ketika harga komoditas dunia sedang mahal.
Oleh karena itu, ketika momentum penurunan harga minyak mentah tiba, margin bisnis tersebut dipulihkan terlebih dahulu dengan cara menahan harga Pertamax di tingkat saat ini, alih-alih langsung memangkas harganya secara instan.
Perlu dipahami bahwa penentuan harga BBM nonsubsidi pada dasarnya tidak semata-mata langsung mengikuti fluktuasi harian dari harga minyak mentah dunia.
Proyeksi Harga Bulan Depan
Menatap periode satu bulan ke depan, sejumlah pengamat ekonomi memberikan pandangan bahwa perhitungan formula dasar dari pemerintah, sebagaimana Kepmen ESDM No. 19/2019, sebenarnya mengarah pada harga keekonomian yang jauh lebih rendah, yaitu di sekitar kisaran Rp13.000 per liter.
Namun, karena adanya pendekatan strategi penghalusan harga yang diterapkan oleh Pertamina, harga jual diprediksi akan tetap berada di kisaran Rp16.000 per liter atau tidak akan mengalami perbedaan yang mencolok jika dibandingkan dengan nominal yang berlaku saat ini.
Menurut Ekonom Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyaksi, sebagaimana dikutip oleh Antara pada Sabtu (3/7), terdapat dua sisi mata uang dari dampak keputusan yang diambil pemerintah terkait harga bahan bakar minyak ini.
Apabila harga jual Pertamax diputuskan untuk langsung diturunkan mengikuti formula dasar pemerintah, maka manfaat utama yang dapat langsung dirasakan oleh masyarakat luas adalah terjadinya penurunan tingkat inflasi nasional sekitar 0,4 poin persentase.
Sebaliknya, apabila tingkat harga saat ini tetap dipertahankan oleh perusahaan, maka keuntungan dari penurunan harga minyak dunia tersebut akan lebih banyak dialokasikan untuk memperbaiki kesehatan neraca keuangan serta margin Pertamina.
Di sisi lain, pilihan kebijakan ini juga berarti bahwa beban subsidi yang harus ditanggung oleh anggaran pemerintah terhadap jenis BBM penugasan seperti Pertalite dan Solar akan tetap menjadi komponen pengeluaran terbesar di dalam struktur anggaran pendapatan dan belanja negara.
Tinggalkan Komentar
Komentar