Periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) hingga akhir tahun akan mengalami pelebaran sebesar Rp734,3 triliun atau 2,85% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). 

‎"Outlook defisit APBN tercatat sebesar Rp734,3 triliun dengan presentasi sebesar 2,85% hadap PDB Dengan demikian, Outlook pembayaran anggaran menjadi sebesar Rp734,3 triliun," kata Purbaya dalam Rapat Banggar DPR RI, Jakarta, Selasa (7/7). 

‎Meski begitu, Bendahara Negara itu optimis realisasi defisit hingga akhir tahun 2026 masih dapat ditekan ke bawah. "Saya yakin kita masih bisa menekan depresi ini ke bawah," imbuhnya. 

‎Proyeksi defisit tersebut sejalan dengan meningkatnya outlook pendapatan dan belanja negara sepanjang tahun ini. Ia memperkirakan pendapatan negara mencapai Rp3.208,1 triliun, atau 101,7% dari target APBN 2026, tumbuh 16% dibandingkan tahun sebelumnya.

‎Kontributor terbesar berasal dari penerimaan perpajakan yang diproyeksikan mencapai Rp2.631,4 triliun, naik 18,6% secara tahunan. Dari jumlah tersebut, penerimaan pajak diperkirakan sebesar Rp2.310,8 triliun atau tumbuh 20,5%, sedangkan kepabeanan dan cukai mencapai Rp320,6 triliun, meningkat 6,8%.

‎Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) diperkirakan mencapai Rp575,1 triliun, atau tumbuh 6,2% secara tahunan.

‎Purbaya mengatakan pemerintah akan terus menjaga momentum pertumbuhan penerimaan pajak melalui perbaikan administrasi perpajakan, termasuk penyempurnaan sistem Coretax serta pembenahan prosedur pelayanan dan pengawasan, tanpa menaikkan tarif maupun menciptakan jenis pajak baru.

‎"Mudah-mudahan kita bisa tahan di 23% terus untuk penerimaan pajaknya sehingga income kita juga akan lebih baik saya yakin dengan efisiensi pekerjaan pajak, perbaikan cortex dan perbaikan prosedur kita bisa mencapai itu tanpa menaikkan tarif pajaknya atau menciptakan pajak baru," terang dia. 

‎Di sisi lain, belanja negara diproyeksikan mencapai Rp3.942,4 triliun, atau 102,6% dari pagu APBN, meningkat 14,8% dibandingkan tahun sebelumnya.

‎Belanja tersebut terdiri atas belanja pemerintah pusat sebesar Rp3.245,5 triliun, tumbuh 25,5% secara tahunan, serta transfer ke daerah sebesar Rp696,9 triliun, atau 100,6% dari pagu APBN sebesar Rp693 triliun.

‎"Outlook belanja ditunjukkan untuk mendukung program prioritas pembangunan menjaga stabilitas harga pangan dan daya beli masyarakat serta untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan daerah penanggulangan bencana dan tambahan ostus," tutup Purbaya.