periskop.id - PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) membukukan laba bersih Rp516 miliar sepanjang 2025, melonjak 96,5% dibandingkan Rp263 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. EBITDA perseroan turut tumbuh 9,8% menjadi sekitar Rp2 triliun.
Chief Financial Officer (CFO) MORA Jimmy Kadir memaparkan, ada tiga segmen yang menjadi tulang punggung pertumbuhan kinerja keuangan tersebut, yakni segmen Fiber to the Home (FTTH), Enterprise, dan Wholesale.
"Untuk pelanggannya juga meningkat sekitar 40 persenan, itu menjadi 330 ribu pelanggan. Sehingga, secara revenue itu meningkat 38 persen menjadi Rp1,3 triliun," ujarnya dalam Paparan Publik Tahunan di Grand Hyatt, Jakarta, Senin (15/6).
Pertumbuhan pelanggan itu sejalan dengan ekspansi jaringan di segmen FTTH. Jumlah homepass tumbuh sekitar 36% menjadi lebih dari 1 juta, naik dari 788 ribu pada tahun sebelumnya. Sementara pelanggan segmen Enterprise juga tercatat naik sekitar 44% menjadi lebih dari 17 ribu pelanggan.
Dari sisi segmen Wholesale, kapasitas naik 18% menjadi 38 terabyte (TB), mendorong pendapatan dari segmen ini tumbuh 9% hingga menyentuh Rp876 miliar.
Di lini infrastruktur, panjang jaringan fiber optic MORA per 31 Desember 2025 mencapai sekitar 58 ribu kilometer. Kapasitas bandwidth turut meningkat sekitar 18% menjadi sekitar 38 Tbps.
Direktur Utama sekaligus Chief Executive Officer (CEO) MORA Timotius Max Sulaiman menilai, seluruh pencapaian itu mencerminkan keberhasilan strategi perseroan dalam memperluas jangkauan layanan sekaligus mendorong efisiensi operasional.
"Perseroan berhasil menjaga momentum pertumbuhan yang sehat sepanjang tahun 2025 melalui penguatan bisnis inti berupa perluasan jaringan fiber optic, percepatan ekspansi FTTH dan FTTX, serta penguatan kapasitas jaringan untuk menjawab lonjakan kebutuhan konektivitas ritel maupun enterprise. Kami melihat kebutuhan konektivitas yang terus meningkat sebagai peluang jangka panjang yang akan terus kami optimalkan melalui investasi infrastruktur yang berkelanjutan," ujar Timotius.
Pada 22 April 2026, MORA menyelesaikan proses penggabungan usaha dengan PT Eka Mas Republik sebagai bagian dari langkah strategis untuk memperkuat ekosistem infrastruktur digital nasional. Lewat merger tersebut, perseroan membentuk platform infrastruktur fiber optic terintegrasi berskala besar.
Per 30 April 2026, pascaefektifnya penggabungan, total homepass gabungan meningkat signifikan menjadi lebih dari 12,7 juta, dengan panjang jaringan fiber optic untuk backbone dan akses melampaui 166 ribu kilometer. Pelanggan ritel gabungan juga bertambah menjadi lebih dari 2,6 juta, sementara pelanggan Enterprise melampaui 17 ribu.
Pada segmen Fixed Wireless Access (FWA), perseroan mencatat lebih dari 200 on-air sites FWA yang tersebar di 90 kota/kabupaten di Indonesia. Ke depan, Timotius menyebutkan perseroan menargetkan penambahan 5 juta homepass, perluasan jaringan FTTH ke 186 kota/kabupaten, serta pembangunan lebih dari 1.000 sites FWA.
Pada sisi jaringan backbone dan last-mile access, perseroan juga tengah menggarap Proyek Rising 8 yang menghubungkan Jakarta, Batam, hingga Singapura menggunakan kabel fiber optic bawah laut sepanjang 1.128,5 kilometer.
"Seiring dengan target penambahan jumlah homepass, perseroan juga menargetkan penambahan 1,5 juta pelanggan pada 2026," pungkas Timotius.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar