periskop.id - Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Bekraf) mendorong penguatan kolaborasi global guna memperkuat daya saing industri musik Indonesia. Upaya tersebut dinilai penting untuk mentransformasikan potensi talenta musik nasional menjadi nilai ekonomi berkelanjutan dan mampu menembus pasar internasional.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan subsektor musik menjadi salah satu prioritas pengembangan ekonomi kreatif dalam lima tahun ke depan. Menurutnya, pemerintah tidak hanya berperan sebagai pemberi dukungan, tetapi juga mitra strategis dalam membangun ekosistem musik yang kompetitif.

“Kami memprioritaskan tujuh subsektor ekonomi kreatif, termasuk musik. Pemerintah siap berkolaborasi agar subsektor ini terus berkembang dan memiliki daya saing global,” kata Teuku Riefky saat audiensi dengan platform musik internasional Gig Life Pro di Jakarta, dikutip dari keterangan resmi Jumat (13/2).

Dalam pertemuan tersebut, Kemenparekraf membahas peluang kerja sama strategis untuk memperkuat jejaring industri musik, termasuk akses ke pasar global. Gig Life Pro dikenal sebagai platform yang menghubungkan pelaku industri musik dari puluhan negara melalui jaringan profesional, program edukasi, serta kurasi acara.

Teuku Riefky menilai subsektor musik Indonesia memiliki potensi besar karena didukung oleh talenta yang beragam dan inovatif. Tantangan utama, menurut dia, adalah bagaimana mengelola potensi tersebut agar memberikan dampak ekonomi jangka panjang.

“Talenta musik Indonesia sangat kuat. Tantangannya adalah mentransformasikan kekuatan itu menjadi nilai ekonomi berkelanjutan melalui kolaborasi, penguatan ekosistem, dan akses pasar global,” ujarnya.

Audiensi juga menyoroti pentingnya kerja sama regional, khususnya di kawasan Asia, sebagai pintu masuk memperluas pasar musik Indonesia. Momentum ajang internasional seperti Music Awards Japan 2026 dinilai dapat dimanfaatkan untuk membuka peluang tampilnya musisi Indonesia di panggung global.

Sementara itu, Founder Gig Life Pro Priya Dewan menyampaikan Indonesia merupakan pasar yang dinamis dengan potensi talenta musik besar. Ia menilai kolaborasi lintas negara dapat membuka peluang dua arah, baik bagi pelaku industri musik Indonesia maupun jaringan global.

“Kami melihat Indonesia memiliki talenta yang kuat. Melalui platform ini, kami ingin membangun jembatan antara pelaku industri musik lokal dengan peluang global agar kolaborasi dapat berjalan secara timbal balik,” kata Priya.

Kemenparekraf menegaskan penguatan ekosistem musik nasional akan dilakukan melalui pendekatan kolaborasi hexahelix yang melibatkan pemerintah, pelaku usaha, komunitas, akademisi, media, serta lembaga keuangan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas bisnis musik nasional sekaligus memperluas akses pasar internasional.