periskop.id - Fitch Ratings merevisi Outlook atau prospek peringkat utang Indonesia menjadi Negatif dari sebelumnya Stabil, sekaligus menegaskan peringkat utang jangka panjang valuta asing (Long-Term Foreign-Currency Issuer Default Rating/IDR) di level BBB.
Dalam rilisnya, Rabu (4/3) Fitch menyebut revisi outlook tersebut mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta kekhawatiran atas konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan di tengah sentralisasi pengambilan keputusan. Kondisi ini dinilai berpotensi melemahkan prospek fiskal jangka menengah, mengganggu sentimen investor, serta menekan bantalan eksternal.
Meski demikian, penegasan peringkat BBB didukung oleh rekam jejak Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi, prospek pertumbuhan jangka menengah yang baik, rasio utang pemerintah terhadap PDB yang relatif moderat, serta cadangan eksternal yang memadai.
Namun, kekuatan tersebut masih dibatasi oleh penerimaan negara yang rendah, beban bunga utang yang tinggi, dan indikator tata kelola yang tertinggal dibandingkan negara peers dengan peringkat BBB.
Ketidakpastian Kebijakan dan Tekanan Belanja
Fitch memperkirakan defisit fiskal Indonesia pada 2026 mencapai 2,9% dari PDB, sama seperti 2025 dan sedikit di atas target pemerintah sebesar 2,7%. Tekanan belanja diproyeksikan meningkat seiring ambisi pemerintah mengejar target pertumbuhan 8% dan peningkatan belanja sosial, termasuk program makan bergizi gratis yang diperkirakan mencapai 1,3% dari PDB.
Lembaga pemeringkat itu juga menyoroti rencana revisi Undang-Undang Keuangan Negara yang masuk dalam prioritas legislasi 2026. Jika kerangka fiskal, termasuk batas defisit 3% PDB, dilonggarkan secara material, hal itu dapat melemahkan kredibilitas kebijakan dan meningkatkan ketergantungan pada pembiayaan bank sentral.
Penerimaan Negara dan Peran Danantara
Fitch memproyeksikan rasio penerimaan pemerintah terhadap PDB rata-rata hanya 13,3% pada 2026–2027, jauh di bawah median negara dengan peringkat BBB sebesar 25,5%. Melemahnya penerimaan pajak, pembatalan kenaikan PPN 1 poin persentase, serta pengalihan dividen BUMN sekitar 0,4% PDB ke sovereign wealth fund baru, Danantara, menjadi faktor penekan ruang fiskal.
Asal tahu saja, Danantara berencana menginvestasikan sekitar 26 miliar dolar AS atau setara 1,7% PDB tahun ini pada proyek hilirisasi di sektor mineral, energi, pangan, dan pertanian.
Namun, Fitch menilai terdapat ketidakpastian apakah mandat dana tersebut dapat meluas menjadi aktivitas kuasi-fiskal yang berpotensi meningkatkan risiko kewajiban kontinjensi pemerintah.
Risiko Eksternal dan Nilai Tukar
Dari sisi eksternal, defisit transaksi berjalan diperkirakan melebar menjadi 0,8% PDB pada 2026 akibat pelemahan ekspor neto.
Cadangan devisa diproyeksikan tetap mampu menutup sekitar lima bulan pembayaran transaksi berjalan, relatif sejalan dengan negara peers. Meski demikian, Fitch mengingatkan risiko arus keluar modal masih tinggi setelah volatilitas pasar domestik baru-baru ini.
Sentimen investor yang rapuh berpotensi memicu tekanan depresiasi rupiah, meningkatkan biaya pinjaman, dan menggerus bantalan eksternal.
Kebijakan Bank Indonesia
Bank Indonesia mempertahankan suku bunga kebijakan di level 4,75% sejak September 2025 dengan fokus menjaga stabilitas rupiah.
Fitch memperkirakan inflasi tetap berada dalam target 2,5% ±1%, serta memproyeksikan dua kali pemangkasan suku bunga hingga 4,25% pada akhir 2026.
Namun, mandat BI yang dinilai semakin kompleks, termasuk potensi perluasan peran dalam mendukung pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja, dapat menimbulkan tantangan dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan, terutama jika tekanan arus keluar modal meningkat.
Utang dan Pertumbuhan
Fitch memperkirakan rasio utang pemerintah naik moderat menjadi 41% PDB pada 2026, masih di bawah median negara BBB sebesar 57,3%. Meski demikian, beban bunga yang mencapai sekitar 17% dari pendapatan pemerintah pada 2025 termasuk tinggi di kategori BBB.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan tetap kuat di kisaran 5% pada 2026–2027, atau dua kali lipat median negara BBB sebesar 2,5%. Permintaan domestik, belanja publik, investasi Danantara, serta pelonggaran moneter diperkirakan menjadi pendorong utama, meski target pertumbuhan 8% pada 2029 dinilai sulit tercapai tanpa reformasi struktural signifikan.
Fitch menegaskan, penurunan peringkat dapat terjadi jika terjadi peningkatan kerentanan makroekonomi, lonjakan defisit dan utang publik, atau penurunan tajam cadangan devisa akibat memburuknya kepercayaan investor. Sebaliknya, outlook dapat kembali Stabil jika disiplin kebijakan terjaga dan rasio penerimaan negara meningkat secara signifikan.
Tinggalkan Komentar
Komentar