periskop.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan pemerintah menyiapkan langkah pemotongan anggaran Kementerian/Lembaga (K/L) sebagai bagian dari skenario menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap di bawah 3% di tengah ketidakpastian ekonomi global.

‎Airlangga menjelaskan kebijakan tersebut merupakan bagian dari skenario yang disiapkan pemerintah untuk menghadapi kondisi krisis, termasuk jika konflik global berlangsung dalam jangka waktu yang cukup panjang.

‎"Jadi yang pertama tadi terkait dengan skenario, itu adalah skenario saat kita kritis atau krisis. Nah, langkah yang diambil peran ini adalah pemotongan anggaran supaya kita tidak lewat daripada tiga persen," ucap Airlangga dalam acara media gathering, Jakarta, dikutip Selasa (17/3). 

‎Ia memaparkan pemerintah telah menyusun beberapa asumsi durasi konflik, mulai dari lima bulan, enam bulan, hingga sepuluh bulan atau sampai akhir tahun sebagai skenario terburuk (worst case scenario).

‎Namun demikian, pemerintah saat ini masih menggunakan pendekatan awal karena konflik baru berlangsung dalam waktu singkat.

‎"Jadi skenario-nya adalah kalau perang sampai sekarang masih lima bulan masih berjalan, kemudian perang diperkirakan berjalan enam bulan, dan sampai akhir tahun masih perang. Itu worst case scenario," jelas Airlangga. 

‎Selama durasi konflik belum memasuki skenario jangka panjang tersebut, pemerintah akan tetap mengandalkan efisiensi atau pemotongan anggaran sebagai langkah utama pengendalian defisit.

‎Airlangga menambahkan besaran efisiensi anggaran yang akan dilakukan sangat bergantung pada perkembangan harga komoditas global, terutama minyak. Di sisi lain, kenaikan harga komoditas juga berpotensi meningkatkan penerimaan negara.

‎Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kebijakan fiskal pemerintah akan bersifat dinamis dan terus dievaluasi secara berkala, menyesuaikan dengan perkembangan situasi global, seperti yang pernah dilakukan saat pandemi COVID-19.

‎"Size-nya juga bergerak. Kita kan belajar bahwa dalam suatu dinamis, kita tidak bisa membuat sesuatu menjadi statis. Karena itu pada saat kita mengambil sesuatu menjadi statis, kita menjadi salah," tutupnya.