periskop.id - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, memproyeksikan realisasi investasi pada kuartal I-2026 mencapai sekitar Rp497 triliun. Angka tersebut diperkirakan tumbuh sekitar 7% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan tren pertumbuhan investasi sebelumnya yang sempat mencatatkan kenaikan dua digit. Menanggapi hal ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai perlambatan dipengaruhi oleh dinamika global yang belum stabil.
Airlangga mengatakan kondisi geopolitik global saat ini, termasuk konflik yang masih berlangsung, membuat situasi ekonomi dunia belum sepenuhnya normal.
"Ya, tentu dalam situasi perang bukan situasi yang normal, semua masih melakukan evaluasi," kata Airlangga kepada media, Jakarta, Senin (13/4).
Meski demikian, ia menegaskan minat investor terhadap Indonesia masih cukup positif. Hal ini tercermin dari respons yang diterima pemerintah dalam berbagai kunjungan ke sejumlah negara, seperti Inggris, Korea Selatan, dan Jepang.
"Tetapi bagi pemerintah kemarin dalam kunjungan ke Inggris, Korea, Jepang, respons dari investornya positif. Jadi kita lihat nanti," terangnya.
Sebelumnya, untuk keseluruhan tahun 2026, pemerintah menargetkan realisasi investasi sebesar Rp2.041,3 triliun, sebagaimana tertuang dalam rencana kerja pemerintah. Sementara itu, target jangka menengah dalam periode pembangunan mencapai Rp13.032,8 triliun.
Dari sisi penyerapan tenaga kerja, realisasi investasi pada awal tahun ini diperkirakan mampu menyerap sekitar 627 ribu tenaga kerja, atau meningkat sekitar 5,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar