Periskop.id - Kondisi ekonomi Indonesia dinilai belum menunjukkan perbaikan signifikan pada awal 2026. Hal ini terungkap dalam hasil survei terbaru yang dirilis oleh LPEM FEB UI.
Dalam laporan bertajuk “LPEM Economic Experts Survey – Semester I 2026”, mayoritas responden menyatakan bahwa kondisi ekonomi saat ini masih stagnan dan belum mengalami perbaikan dibandingkan periode sebelumnya.
Survei ini melibatkan 85 ahli ekonomi sebagai responden. Dari jumlah tersebut, sebanyak 73 ekonom atau sekitar 86% menyatakan bahwa kondisi ekonomi Indonesia tidak mengalami perbaikan.
Temuan ini konsisten dengan dua survei sebelumnya yang dilakukan pada Maret dan Oktober 2025, yang juga menunjukkan sentimen serupa dari para ahli.
Survei terbaru ini dilakukan pada periode 24 Februari hingga 9 Maret 2026, dan menjadi survei pertama pada tahun ini.
Ekspektasi Pertumbuhan yang Stagnan dan Ketidakpastian Tinggi
Ketika diajak melihat prospek tiga bulan ke depan, para ahli cenderung bersikap realistis namun tetap waspada. Mayoritas responden, yakni sebanyak 42%, memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak akan mengalami perubahan signifikan.
Indikator keyakinan para ahli tercatat berada di angka 7,47 dari rentang 0 hingga 10. Angka ini mencerminkan bahwa tingkat ketidakpastian di pasar dan pemerintahan masih tergolong cukup tinggi.
Meskipun rata-rata respons menunjukkan sedikit perbaikan ke angka -0,11 dibandingkan survei sebelumnya yang berada di posisi -0,13, perubahan ini dinilai terlalu kecil untuk memberikan dampak nyata.
Dengan rentang skor respons antara -2 (jauh lebih buruk) hingga +2 (jauh lebih baik), angka -0,11 mengonfirmasi bahwa prospek pertumbuhan ekonomi masih terlihat lesu.
Bayang-Bayang Inflasi Akibat Geopolitik Global
Salah satu poin yang paling disoroti dalam survei ini adalah kekhawatiran terhadap laju inflasi. Mayoritas ahli menunjukkan sikap pesimis, di mana 67% responden menilai tingkat inflasi saat ini sudah lebih tinggi dibandingkan tiga bulan yang lalu.
Kekhawatiran ini diprediksi akan terus berlanjut. Sebanyak 75% ahli memperkirakan bahwa tekanan inflasi akan semakin meningkat dalam tiga bulan ke depan. Para ahli mengaitkan prospek negatif ini dengan ketegangan geopolitik global yang belum mereda.
Konflik internasional tersebut berpotensi besar mengganggu rantai pasokan global serta pasar energi dunia, yang pada akhirnya akan mendorong kenaikan harga barang dan jasa di pasar domestik Indonesia.
Lingkungan Bisnis Dinilai Memburuk
Sektor dunia usaha juga tidak luput dari penilaian negatif. Sebanyak 45% ahli ekonomi menilai bahwa lingkungan bisnis saat ini telah memburuk jika dibandingkan dengan tiga bulan sebelumnya. Penilaian ini sejalan dengan rendahnya optimisme terhadap pemulihan daya beli dan investasi.
Untuk pandangan ke depan, sebanyak 47% responden memproyeksikan kondisi lingkungan bisnis akan tetap stagnan atau tidak berubah.
Di sisi lain, 46% ahli justru memberikan peringatan lebih keras dengan memperkirakan bahwa kondisi lingkungan bisnis kemungkinan besar akan terus memburuk dalam waktu dekat.
Secara keseluruhan, hasil survei LPEM FEB UI menggambarkan bahwa perekonomian Indonesia masih berada dalam fase stagnasi dengan tingkat ketidakpastian yang relatif tinggi.
Meskipun tidak terjadi penurunan yang signifikan, belum adanya perbaikan yang jelas menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi berjalan lambat.
Laporan ini juga memberikan sinyal kuning bagi para pemangku kebijakan dan pelaku usaha untuk tetap waspada dalam menyusun strategi di tengah situasi ekonomi yang belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang kuat.
Tinggalkan Komentar
Komentar