periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan instansinya sengaja memacu realisasi belanja negara pada kuartal pertama. Kebijakan percepatan pengeluaran ini dirancang agar perputaran roda ekonomi nasional langsung melaju kencang sejak awal tahun.

"Orang bertanya kenapa sekarang lebih cepat, karena memang kita maunya begitu dan ingin sekali belanjanya bisa dibelanjakan merata sepanjang tahun," kata Purbaya rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta pada Senin (6/4).

Total serapan belanja negara sepanjang triwulan pertama telah menyentuh angka Rp815 triliun. Nominal pencairan dana ini melonjak tajam hingga 31,4% jika dibandingkan capaian periode serupa tahun lalu.

Lonjakan pengeluaran awal tahun ini setara dengan 21,2% dari total pagu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). "Ini by design percepatan belanja seperti yang saya bilang tadi, anggarannya sudah ada, kementerian lembaga kerja lebih cepat," jelasnya.

Kinerja pendapatan negara pada saat bersamaan turut menunjukkan tren pergerakan ke arah positif. Kas negara berhasil mengumpulkan pemasukan sebesar Rp574,9 triliun selama tiga bulan pertama operasi.

Perolehan pendapatan awal tahun ini mencerminkan tingkat pertumbuhan sebesar 10,5% secara tahunan. "Penerimaan pajak tumbuh kuat 20,7% year-on-year dan belanja negara lebih cepat tumbuh tinggi 31,4%," paparnya.

Agresivitas kucuran belanja pemerintah secara matematis otomatis melebarkan selisih postur keuangan sementara. Posisi defisit APBN pada kuartal pembuka ini tercatat telah menembus angka Rp240,1 triliun atau sekitar 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Purbaya meminta masyarakat tidak perlu cemas merespons angka pelebaran selisih postur anggaran tersebut. "Jadi ketika ada defisit, masyarakat jangan kaget, memang anggaran kita di-design defisit," terangnya.

Pemerintah menganggap skenario pengeluaran lebih besar dari pemasukan di awal tahun sebagai sebuah kewajaran mutlak. "Kalau saya belanjakan lebih merata sepanjang tahun harusnya di triwulan pertama sekarang lebih besar dibanding triwulan pertama tahun lalu defisitnya, itu sesuatu yang normal," tambahnya.

Strategi distribusi pencairan dana lebih awal terbukti sukses memberi dampak berganda ke berbagai sektor produktif di lapangan. "Sehingga dampak ekonominya lebih signifikan dirasakan sepanjang tahun," pungkasnya.