periskop.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menjelaskan, melonjaknya permintaan dolar Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu faktor yang membuat nilai tukar rupiah melemah.

 

“Faktor global juga sangat mempengaruhi dan seperti yang saya sampaikan selama bulan ibadah haji ini kan demand terhadap dolar juga tinggi,” kata Airlangga di kantornya, Jakarta, Selasa (19/5).

 

Airlangga mengungkapkan, kebutuhan mata uang asing tersebut meningkat pesat pada periode sekarang. Kondisi ini sejalan dengan aktivitas pembayaran dividen perusahaan setelah musim laporan keuangan tahunan berakhir.

 

Tekanan terhadap mata uang garuda semakin diperparah oleh lonjakan harga minyak global. Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran yang belum mereda menjadi pemicu utamanya.

 

Airlangga memandang kombinasi tingginya permintaan dolar AS dan kenaikan harga minyak dunia membentuk tekanan eksternal yang kuat. Situasi ini berdampak langsung pada pergerakan nilai tukar domestik.

 

“Sesudah laporan keuangan, pembayaran dividen itu kebanyakan juga di bulan-bulan ini. Jadi memang demand-nya sedang tinggi. Plus harga minyak masih naik,” jelasnya.

 

Pemerintah tetap optimistis melihat prospek perekonomian ke depan. Menko Perekonomian berharap nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mampu berbalik menguat pada paruh kedua tahun ini.

 

“Mudah-mudahan semester II bisa lebih baik lagi,” tambahnya.

 

Data pasar menunjukkan pergerakan mata uang domestik belum stabil. Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Selasa melemah 38 poin atau 0,22 persen menjadi Rp17.706 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.668 per dolar AS.