periskop.id – Atase Perdagangan RI, Riyadh Zulvri Yenni mengajak para eksportir Tanah Air memanfaatkan peluang transformasi ekonomi Saudi Vision 2030 untuk memperbanyak peredaran produk nonmigas Indonesia di Arab Saudi.

 

“Kebijakan transformasi ekonomi Arab Saudi akan mengurangi ketergantungan terhadap sektor minyak dan gas dengan cara memperkuat sektor industri, pariwisata, logistik, serta ekonomi digital. Perubahan struktur ekonomi Arab Saudi akan turut memperluas ruang masuk produk Indonesia ke pasar negara tersebut melalui peningkatan permintaan,” kata Zulvri dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (19/5).

 

Zulvri menjelaskan, sektor potensial yang terus tumbuh meliputi makanan dan minuman halal, produk pertanian, furnitur, fesyen muslim, kosmetik halal, hingga manufaktur bernilai tambah.

 

Kenaikan jumlah wisatawan religi dan jamaah umrah menjadi faktor utama pendorong meningkatnya kebutuhan barang konsumsi di negara tersebut.

 

Laporan terbaru Strategic Management Office–Council of Economic and Development Affairs (SMO-CEDA) mencatat capaian transformasi Saudi Vision 2030 sudah menyentuh 93 persen.

 

Angka tersebut diukur melalui 38 indikator utama dan 390 subindikator yang telah ditetapkan sejak peluncuran program.

 

Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud bersama Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman bin Abdulaziz Al Saud memonitor langsung program ini.

 

Zulvri melihat Indonesia bisa memanfaatkan momentum besar ini dengan menguatkan diplomasi dagang, promosi produk unggulan, serta peningkatan standar kualitas produk.

 

Pihak perwakilan perdagangan RI memastikan kesiapan mereka memfasilitasi pertemuan bisnis demi menghubungkan pelaku usaha domestik dengan pembeli di Arab Saudi.

 

“Pasar Arab Saudi saat ini sangat potensial bagi produk Indonesia. Untuk memaksimalkan peluang ini, perwakilan perdagangan di Arab Saudi siap memfasilitasi business matching pelaku usaha Indonesia dan Arab Saudi,” ujarnya.

 

Sektor makanan dan minuman halal menjadi salah satu bidang yang menjanjikan karena menopang ekosistem perlengkapan haji secara signifikan.

 

Jumlah jamaah umrah internasional tercatat menyentuh 18,03 juta orang dan ditargetkan menembus angka 30 juta orang menjelang musim mendatang.

 

Lonjakan kunjungan ini otomatis menaikkan permintaan produk makanan siap saji, perlengkapan ibadah, produk kesehatan, serta berbagai layanan pendukung.

 

“Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemasok utama produk halal di Arab Saudi, terutama untuk memenuhi kebutuhan konsumen domestik Arab Saudi maupun jamaah internasional yang membutuhkan produk-produk tersebut, namun memiliki kompetitor sesama negara anggota ASEAN terutama Malaysia, Thailand, dan Vietnam,” katanya.

 

Selain produk halal, segmen pasar baru tercipta berkat partisipasi pekerja perempuan Arab Saudi yang kini berada di angka 35 persen.

 

Fenomena pergeseran tenaga kerja ini melahirkan permintaan tinggi terhadap produk perawatan kulit, pakaian kerja sopan, hingga layanan profesional spesifik.

 

Proyek infrastruktur skala besar di Arab Saudi turut membuka keran ekspor produk industri dan manufaktur asal Indonesia.

 

Pemerintah setempat sedang gencar membangun kota pintar, kawasan industri baru, serta infrastruktur penunjang pariwisata secara masif.

 

Tingkat kepemilikan rumah warga lokal yang mencapai 66,24 persen menjadi sinyal positif bagi industri dalam negeri.

 

Eksportir Indonesia bisa memasok kebutuhan furnitur kayu, dekorasi interior, dan bahan bangunan berkualitas tinggi ke sana.

 

Untuk diketahui, Pada periode Januari—Maret 2026, total perdagangan Indonesia dan Arab Saudi tercatat sebesar USD 1,35 miliar, dengan ekspor Indonesia ke Arab Saudi USD 527,40 juta dan impor Indonesia dari Arab Saudi USD 825,50 juta.

 

Sementara pada 2025, total perdagangan kedua negara mencapai USD 6,53 miliar dengan ekspor Indonesia tercatat USD 2,88 miliar dan impor USD 3,65 miliar.

 

Ekspor utama Indonesia ke Arab Saudi di antaranya kendaraan dan bagiannya, lemak dan minyak hewani atau nabati, kapal laut, makanan olahan, serta kayu dan barang dari kayu.

 

Sedangkan, impor Indonesia dari Arab Saudi di antaranya garam, belerang, kapur, plastik dan barang dari plastik, bahan kimia organik, berbagai produk kimia, serta buah-buahan.