periskop.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menjamin pemerintah tidak menaikkan harga BBM bersubsidi di tengah nilai tukar rupiah yang melemah.

 

“Tidak akan naik. Insyaallah, ya, doanya, tidak akan kita naikkan,” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (19/05).

 

Keputusan tersebut menjadi angin segar bagi masyarakat pengguna transportasi harian. Kebijakan ini diharapkan mampu menjaga stabilitas daya beli publik di tengah ketidakpastian ekonomi global.

 

Bahlil menjelaskan rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada April lalu menyentuh 117,31 dolar AS per barel.

 

Namun, situasi tersebut belum memengaruhi nominal jual BBM bersubsidi ke masyarakat konsumen.

 

Kondisi kas negara dinilai masih mampu menopang beban subsidi saat ini. Pemerintah terus memantau pergerakan pasar komoditas global secara berkala dan cermat.

 

Fluktuasi harga internasional didasarkan pada hitungan rata-rata harga minyak mentah domestik sejak awal tahun. Rapor pergerakan harga komoditas ini belum menembus batas psikologis yang mengkhawatirkan pemerintah.

 

“Rata-rata ICP kita sekarang itu kurang lebih sekitar 80–81 dolar AS dari bulan Januari sampai sekarang. Jadi, belum sampai 100 dolar AS,” kata Bahlil.

 

Posisi rata-rata yang stabil tersebut membuat kalkulasi anggaran subsidi energi masih terkendali. Target pemenuhan kebutuhan energi masyarakat diproyeksikan aman tanpa perubahan tarif ritel.

 

Bahlil kembali menekankan harga lini komoditas penopang mobilitas warga tersebut tidak akan bergejolak dalam waktu dekat. Rentang waktu stabilitas tarif ini dipatok bertahan jangka panjang.

 

“Insyaallah sampai akhir tahun,” ucapnya.

 

Kementerian ESDM merilis data resmi mengenai harga minyak mentah Indonesia periode April lalu sebesar 117,31 dolar AS per barel. Angka ini menunjukkan adanya tren kenaikan yang cukup signifikan dari bulan sebelumnya.

 

Grafik pasar mencatatkan lonjakan sebesar 15,05 dolar AS per barel. Margin kenaikan ini dihitung dari raport harga pada Maret lalu yang bertengger di posisi 102,26 dolar AS per barel.